JAKARTA, - Di berbagai sudut Jakarta, warna-warni grafiti menjadi pemandangan yang kian akrab bagi masyarakat.Ada yang menyebutnya seni jalanan dengan nilai ekspresi yang kuat, namun banyak pula yang memandangnya sebagai tanda kota yang tak tertib dan tak nyaman dipandang.Coretan dan mural itu hadir di mana saja di ruko, di bawah flyover, di tiang penyangga jalur layang, hingga bangunan yang sudah tak terpakai./LIDIA PRATAMA FEBRIAN Barikade beton pembatas jalan di Jakarta Pusat dipenuhi coretan grafiti.Pertanyaannya, grafiti ini bagian dari budaya urban atau justru menjadi masalah baru bagi wajah kota?Untuk menjawabnya, Kompas.com melakukan penelusuran di sejumlah titik di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur, Senin .Jakarta Pusat menjadi wilayah dengan temuan grafiti yang paling menonjol.Di wilayah Gondangdia dan Cikini, fenomena ini tampak merepresentasikan berbagai gaya street art, mulai dari tagging, throw-up, hingga piece yang lebih rapi dan penuh warna.Di salah satu dinding bangunan di Jalan Cut Nyak Dien, tepatnya dekat sebuah guest house bernama Nataraca, grafiti tebal hitam-putih mendominasi fasad bangunan.Coretan besar bergaya bombing itu menumpuk satu sama lain, menutupi tekstur dinding yang sudah kusam.Baca juga: Sering Melukis Mural, Aziz Petugas PPSU Warisi Bakat Seni dari OrangtuaTak jauh dari lokasi itu, sebuah dinding semen di lorong jalan dipenuhi karakter kartun berwarna cerah ungu, pink, oranye yang terlihat lebih artistik.Namun, karena eksekusinya bercampur dengan coretan acak, hasilnya tetap menimbulkan kesan semrawut.Beberapa pengendara motor yang memarkirkan kendaraannya di depan dinding tersebut tampak tak memedulikannya, seolah coretan-coretan itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kota.Di bawah jalur layang kereta di kawasan ini, tembok beton yang membentang panjang menjadi kanvas besar bagi berbagai piece grafiti.Kombinasi ungu, biru muda, pink, dan kuning ditata cukup rapi sehingga nuansa street art terasa lebih hidup dan estetik.Namun, di tiang penyangga flyover terlihat pemandangan yang berbeda.Sebuah mural bergambar pekerja ber-topi caping dan baju kuning tampak apik, tetapi bagian bawahnya telah dicorat-coret kembali dengan tagging merah mencolok.Fenomena overwriting ini memperlihatkan adanya perebutan ruang ekspresi antarseniman jalanan.Sementara di ruas Jalan Menteng Raya, Kramat Kwitang, hingga Merdeka Barat, coretan semakin sering dijumpai, terutama di pintu rolling door ruko-ruko yang tutup atau tidak terawat.Baca juga: Cerita Aziz, PPSU Pelukis Mural di Setiabudi yang Pernah Buka Galeri Seni
(prf/ega)
Jejak Grafiti di Jakarta, Antara Mural Estetik dan Coretan Liar
2026-01-12 08:43:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:43
| 2026-01-12 07:34
| 2026-01-12 07:18
| 2026-01-12 06:39










































