KGPAA Hamangkunegoro Ikrarkan Diri sebagai Pakubuwono XIV, KGPA Tedjowulan Beri Respon

2026-02-05 11:13:50
KGPAA Hamangkunegoro Ikrarkan Diri sebagai Pakubuwono XIV, KGPA Tedjowulan Beri Respon
- Putra mendiang Pakubuwono XIII, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram atau Gusti Purboyo, resmi membacakan ikrar naik takhta di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.Ikrar kenaikan takhta sebagai Pakubuwono XIV itu diucapkan KGPAA Hamangkunegoro di depan jenazah sang ayah sebelum diberangkatkan menuju pemakaman di Imogiri.Dalam momen tersebut, KGPAA Hamangkunegoro menyampaikan sumpah kesetiaan untuk melanjutkan kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai raja Keraton Surakarta.Tindakan ini disebut oleh keluarga besar sebagai bagian dari adat turun-temurun yang menandai kesinambungan kepemimpinan di lingkungan Keraton Surakarta.Baca juga: KGPA Tedjowulan Klarifikasi Statusnya di Keraton Surakarta: Hanya Pelaksana Tugas, Bukan Sebagai RajaDilansir dari TribunBanyumas.com, dalam upacara adat itu, KGPAA Hamangkunegoro mengucapkan ikrar secara lengkap menggunakan bahasa Jawa keraton di hadapan keluarga besar dan abdi dalem.“Ingsun Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram, ing dina iki, Rebo Legi, patbelas Jumadilawal tahun Dal sewu sangangatus seket sanga, utawa kaping lima Nopember rong ewu selawe, hanglintir kaprabon Dalem minangka Sri Susuhan Karaton Surakarta Hadiningrat, kanthi sesebutan Sampeyandalem ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono Parbelas,” ucap KGPAA Hamangkunegoro.Dalam terjemahan singkat, ikrar tersebut bermakna bahwa dirinya naik takhta sebagai raja Karaton Surakarta Hadiningrat dengan gelar Paku Buwono XIV pada Rabu Legi, 5 November 2025.Setelah mengucapkan sumpah, ia bersalaman dan memeluk keluarga besar yang hadir di lokasi.Baca juga: Profil Gusti Purboyo, Putra Mahkota Keraton Solo yang Nyatakan Naik Takhta Jadi Pakubuwono XIVPutri sulung mendiang Pakubuwono XIII, GKR Timoer Rumbaikusuma Dewayani, menyebut apa yang dilakukan adiknya itu sebagai bagian dari adat istiadat Keraton Surakarta.“Sumpah yang diucapkan di hadapan jenazah Sri Susuhunan Pakoe Boewono XIII itu bukan hanya tanda penerimaan tanggung jawab, melainkan pula perwujudan adat yang telah turun-temurun dijaga dalam tradisi keraton,” ujar GKR Timoer.Ia menambahkan, tradisi penobatan di tengah suasana duka bukanlah hal baru dalam sejarah panjang Kasunanan Surakarta.“Proses hanglintir kaprabon atau pengambilan tahta di hadapan jenazah raja sebelumnya telah terjadi di masa lalu, menandakan kesinambungan kepemimpinan dan keluhuran adat yang tak boleh terputus,” jelasnya.Sementara itu, Maha Menteri Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan memberikan reaksi berbeda.Dilansir dari TribunSolo.com, melalui juru bicaranya yaitu KP Bambang Pradotonagoro, KGPA Tedjowulan menilai deklarasi KGPAA Hamangkunegoro sebagai Pakubuwono XIV dilakukan terlalu cepat.“Kita belum berbicara sampai di sana. Semua sah. Gusti Puger, Gusti Dipo silakan. Pembicaraan itu nanti,” ujar KP Bambang saat ditemui di kantornya, Rabu .


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-05 09:30