PEREKONOMIAN Indonesia memasuki babak yang menuntut kewaspadaan baru. Berbagai langkah pelonggaran kebijakan telah ditempuh, tapi pertumbuhan ekonomi masih tertahan.Kuartal ketiga 2025, ekonomi hanya tumbuh 5,04 persen, melambat dari kuartal sebelumnya, sinyal bahwa mesin pendorong pertumbuhan ekonomi belum bekerja secara optimal.Stimulus fiskal ala Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa diiringi pelongggaran kebijakan moneter yang konsisten sejak awal tahun, belum memberikan hasil sepadan.Injeksi likuiditas dan penurunan suku bunga yang semestinya mengakselerasi perputaran uang, belum sepenuhnya tersalurkan ke sektor riil.Persoalannya bukan pada besaran stimulus, melainkan mekanisme transmisi kebijakan yang masih tersendat di saluran sistem perbankan dan lembaga keuangan.Indikasi ini nampak dari pertumbuhan uang primer. Penurunan suku bunga ternyata tidak diikuti naiknya sirkulasi uang.Peredaran uang primer pada Juli 2025 justru menyusut - 2,5 persen. Hal yang sama juga terjadi pada Oktober, di mana peredaran uang menyusut - 2,72 persen.Baca juga: Stabilitas Menguat, Pertumbuhan Ekonomi Jalan di TempatIni tidak sejalan dengan kaidah pertumbuhan moneter ala Milton Friedman yang menyatakan bahwa laju pertumbuhan uang beredar paling tidak harus sama dengan laju pertumbuhan ekonomi ditambah target inflasi.Jika target inflasi 2025 ditetapkan 2,5 persen, maka uang beredar harus tumbuh paling tidak 2,5 persen.Fenomena ini menandai kebijakan moneter yang meskipun telah dilonggarkan, tapi kehilangan taringnya untuk mendorong ekspansi. Dalam istilah Keynesian, kondisi ini dikenal sebagai jebakan likuiditas (liquidity trap).Meskipun suku bunga rendah, pelaku ekonomi lebih memilih menyimpan uang ketimbang membelanjakannya.Suku bunga turun, tetapi investasi tidak naik. Uang beredar, tapi tidak bergerak. Ekonomi berada dalam fase stagnasi likuid, ibarat sungai yang penuh air, tetapi mengalir pelan.Situasi ini patut diwaspadai karena bisa menjadi sinyal bahwa ruang stimulus konvensional semakin sempit. Jika tidak dikelola hati-hati, maka jebakan likuiditas bisa menjelma menjadi stagnasi: kebijakan moneter tumpul, fiskal kelelahan, dan sektor riil kehilangan daya dorong.Masalahnya bukan sekadar di sisi moneter. Ia juga bersumber dari persoalan struktural dalam sistem keuangan serta lemahnya permintaan agregat.Pelonggaran moneter memang dapat menurunkan biaya dana, tetapi tidak otomatis mendorong konsumsi dan investasi.
(prf/ega)
Menghindari Jebakan Likuiditas
2026-01-12 03:38:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:00
| 2026-01-12 03:08
| 2026-01-12 02:46
| 2026-01-12 02:06










































