JAKARTA, - Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) menilai, Indonesia tetap membutuhkan kedelai impor untuk menjaga stabilitas harga, menekan inflasi, dan memastikan pasokan pangan berbasis kedelai tetap terjaga di tengah peningkatan kebutuhan.Sekretaris Jenderal Gakoptindo Wibowo Nurcahyo mengungkapkan, di sejumlah daerah mulai muncul kenaikan harga tahu dan tempe, bahkan disertai kesulitan pasokan.“Kalau ini tidak kita kendalikan sejak awal, dan program MBG ini terus berjalan hingga 2045, kita bisa kekurangan kedelai dan memicu inflasi,” kata dia dalam keterangannya, Senin .Baca juga: Titiek Soeharto Minta Swasembada Kedelai, Malu Tiap Tahun Impor 2,6 Juta TonKarena itu, Gakoptindo mendorong strategi segmentasi pasar kedelai. Kedelai impor diarahkan untuk konsumsi masyarakat umum agar harga tetap terjangkau, sementara kedelai lokal difokuskan untuk program MBG, termasuk produksi susu kedelai non-GMO.“Segmentasinya harus jelas supaya tidak saling mengganggu. Susu kedelai untuk MBG pakai lokal, sedangkan kedelai impor untuk pasar umum,” ujarnya.Wibowo menambahkan, komunikasi dengan para importir sejauh ini berjalan dengan baik. Menurut dia, Gakoptindo berada pada posisi menjaga stabilitas rantai pasok, baik dari kedelai lokal maupun impor.“Kami mendukung program pemerintah karena itu perintah negara, dan di sisi lain kami juga menjaga hubungan baik dengan importir. Kebijakan impor seperti apa nanti, itu ranah pemerintah,” tuturnya.Di tengah kebutuhan yang terus meningkat, Wibowo mengingatkan bahwa tempe dan tahu merupakan sumber protein yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Rata-rata konsumsi tempe di setiap rumah tangga mencapai sekitar 1,5 kilogram per bulan, sementara tahu berada di kisaran 1,7 hingga 1,8 kilogram per bulan.“Intinya, kami ingin semua pihak aman dan nyaman. Kedelai lokal kita fokuskan pada segmen tertentu, impor tetap berjalan untuk menjaga harga dan pasokan. Dengan strategi ini, inflasi bisa ditekan dan kebutuhan dalam negeri tetap bisa terpenuhi,” kata Wibowo.Program berikutnya yang menjadi perhatian Gakoptindo adalah penyediaan pasokan tempe dan tahu untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk itu, Gakoptindo akan menyiapkan pabrik-pabrik yang layak dan memenuhi standar agar dapat masuk ke dalam rantai pasok MBG.Sejalan dengan itu, Gakoptindo juga mendorong penggunaan kedelai lokal untuk program MBG sebagai bagian dari dukungan terhadap program Asta Cita Presiden Prabowo.“Kedelai lokal itu non-GMO. Oleh karenanya, bahan baku tempe dan tahu untuk MBG harus yang terbaik. Saat ini pilihannya adalah kedelai lokal,” ujar Wibowo.Namun, ia mengakui bahwa produksi kedelai lokal saat ini belum mampu mencukupi kebutuhan nasional. Dalam setahun, kebutuhan kedelai Indonesia mencapai sekitar 2,9 juta ton, sementara serapan kedelai lokal masih di bawah 100.000 ton.“Dengan kondisi seperti ini, tidak mungkin kita menutup keran impor. Itu hal yang tidak realistis,” tegasnya.Pertumbuhan industri tempe dan tahu nasional saat ini menunjukkan tren yang positif. Namun, di balik perkembangan tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang perlu terus dijaga, mulai dari kualitas produksi, efisiensi biaya, hingga keberlanjutan pasokan bahan baku kedelai.
(prf/ega)
Gakoptindo: Segmentasi Kedelai Lokal dan Impor Kunci Ketahanan Pangan Nasional
2026-01-12 03:52:23
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:28
| 2026-01-12 02:32
| 2026-01-12 02:32
| 2026-01-12 01:49
| 2026-01-12 01:48










































