Fenomena Topeng Monyet di Jakarta, Antara Hiburan Murah dan Eksploitasi Hewan

2026-01-11 22:25:40
Fenomena Topeng Monyet di Jakarta, Antara Hiburan Murah dan Eksploitasi Hewan
JAKARTA, - Fenomena pengamen topeng monyet, yang kini semakin langka, ternyata masih bertahan di sudut-sudut Jakarta.Tradisi hiburan rakyat ini masih bertahan di tengah kota yang semakin sibuk dan modern, meski jumlahnya kian menipis dan praktiknya menimbulkan perdebatan soal kesejahteraan hewan.Rakhmat Hidayat, sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menilai fenomena ini sebagai bagian dari sejarah hiburan rakyat urban.“Fenomena pengamen topeng monyet ini termasuk generasi awal jika dibandingkan dengan fenomena pengamen lain seperti badut, manusia silver, ondel-ondel, dan seterusnya,” kata Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Jumat .Baca juga: Alasan Pelatih Taekwondo Tak Melawan saat Dianiaya Pemotor Lawan Arah di JagakarsaMenurut Rakhmat, topeng monyet muncul di Jakarta pada awal 1990-an, terutama sebagai hiburan murah meriah bagi anak-anak.“Awalnya, topeng monyet hadir sebagai hiburan. Monyet dianggap lucu karena bisa mengikuti perintah dari pawangnya,” kata dia.“Di masa itu, hiburan digital dan gawai belum berkembang, jadi atraksi ini menjadi tontonan yang mudah diakses masyarakat kota,” lanjutnya.Namun, tidak semua pengalaman menyenangkan. Beberapa kasus monyet menggigit atau mengejar anak-anak membuat sebagian orang trauma.“Dari situ, hiburan yang tadinya menyenangkan mulai dianggap menakutkan oleh sebagian orang tua,” tutur Rakhmat.Memasuki era 2000-an, atraksi ini menghadapi persaingan dari pengamen lain, termasuk badut, manusia silver, dan ondel-ondel.Baca juga: Viral Perempuan Dorong Satpam hingga Nyaris Tertabrak KRL di Stasiun Gang SentiongMeski demikian, topeng monyet tetap bertahan karena memiliki ciri khas profesi dan identitas sosial yang diwariskan turun-temurun.Faktor ekonomi menjadi alasan utama pawang mempertahankan profesinya, selain fungsi hiburan bagi masyarakat.“Kita paham kondisi ekonomi para pawang dan paham topeng monyet adalah hiburan murah. Tapi sisi lain ada isu besar mengenai perlindungan hewan yang tidak boleh diabaikan,” kata Rakhmat.Rakhmat mengatakan atraksi topeng monyet di awal 2000-an sempat meredup karena kritik dari aktivis lingkungan dan pecinta hewan. Namun, setelah 2010, pengamen topeng monyet muncul kembali.“Mereka tetap bertahan karena memiliki jaringan pertemanan yang saling memberi informasi ketika ada penertiban,” ujarnya.Rakhmat menekankan pentingnya pendekatan humanis dan edukasi. Serta pemerintah seharusnya membatasi penggunaan hewan karena ada aspek eksploitasi.“Perlu edukasi kepada para pawang dan masyarakat agar memahami dampaknya terhadap kesejahteraan hewan. Langkah pertama adalah pendataan, kemudian pembinaan dan pelibatan aktivis hewan,” katanya.Baca juga: Terowongan Tiga, Cagar Budaya Berusia Seabad yang Tak Dikenal WarganyaIa menambahkan, meski atraksi ini menghibur, tetap ada risiko sosial.


(prf/ega)