JAKARTA, - Guru Besar sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana (PSB) IPB University, Bambang Hero Saharjo menyoroti pembalakan liar yang menjadi pemicu banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat akhir November 2025 lalu.Berdasarkan data, tampak kawasan hutan dibuka, menyebabka air hujan langsung mengalir deras ke area di bawahnya tanpa penahan alami. Hal ini dibuktikan dengan temuan gelondongan kayu berbagai ukuran yang ikut terseret banjir salah satuny di enam lokasi Sumatera Utara."Terdapat gelondongan kayu ya yang terdampar dan memenuhi sungai, anak sungai, dan pantai yang terdiri dari berbagai jenis kayu yang berkulit dan tidak berkulit," ujar Bambang dalam webinar LRI Talk 3, Rabu .Baca juga: Banjir Aceh Disebut Jadi Dampak Deforestasi, Tutupan Hutan Sudah Kritis Sejak 15 Tahun Lalu"Ada yang tersangkut terangkut dengan akarnya. ada yang sudah terpotong dengan ukuran tertentu bahkan ada yang sudah diberi nomor pada lokasi bekas tebangannya," imbuh dia.Di samping itu, Bambang mencatat kawasan hutan dan areal penggunaan ain (APL) lebih terbuka karena tajuk sudah tidak tertutup, serta saling bersambung satu sama lain. Dia menyebutkan bahwa kondisi serupa ditemukan secara sporadis pada bidang miring, di mana masih terdapat pohon yang masih berdiri."Yang ketiga adalah tampak jejak kayu terbawa arus yang kencang dari daerah yang relatif miring," tutur Bambang.Dari kondisi tersebut, Bambang lantas mempertanyakan mengapa tajuk pohon tampak terbuka pada kawasan yang berhutan, terdapat wilayah berpohon di daerah dengan kemirikan lereng curam dengan area sekitar telah terbuka.Selain itu, terdapat pohon bekas tebangan seperti bekas kergaji dengan mesin pemotong, pohon yang terangkut dengan akar-akarnya, dan mempertanyakan penemuan kayu bernomor.Baca juga: Menteri LH Sebut 4,9 Juta Hektar Lahan di Aceh Rusak akibat Banjir"Dapat dipastikan di balik bencana banjir dan longsor atau ada juga yang menyebutkannya sebagai bencana hidrometeorologi, maka terdapat kegiatan manusia yang berada di baliknya. Apakah kegiatan tersebut sengaja dilakukan ataupun akibat kelalaian," ucap Bambang.Akibat aktivitas ilegal ditambah hujan deras di tiga provinsi Sumatera, terjadilah bencana yang memakan korban jiwa. Ratusan warga juga masih dinyatakan hilang. Tak hanya itu, infrastuktur dan permukiman ikut hancur karena banjir dan tanah longsor."Bukan berarti bahwa yang berada di balik terjadinya kejadian tersebut dapat dibiarkan hidup bebas. Namun, mereka harus tetap bertanggung jawab dan tidak bisa berlindung di balik kejahatan tersebut," jelas dia.Bambang mengaku, sempat menangani kasus pembalakan liar di Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara. Hutan lindung yang sebelumnya tertutup pohon mulai terbuka karena penebangan ilegal.Para penebang, menyeleksi setiap kayu dengan diameter yang besar berukuran sekitar 80 sentimeter dan panjang tertentu."Berhari-hari mereka melakukan kegiatan penebangan. Setelah mereka melakukan penbangan, mendapatkan kayu dan sebagainya, mereka mulai mengatur," sebut dia.Kayu-kayu yang dianggap tak bernilai ditinggal begitu saja. Kasus lainnya di Bukit Suligi, Rokan Hulu, Riau, di mana dia menemukan pembukaan hutan lindung secara ilegal. Kala itu, terjadi kebakaran besar di lokasi tersebut.Bambang menekankan bahwa masifnya pembukaan lahan untuk pemukiman, pertanian, dan perekomonian melepaskan cadangan karbon ke atmosfer. Sehingga konsentrasi karbon dioksida terus meningkat dan menjadikan bumi bertambah panas akibat pemanasan global."PBB mendefinisikan ancaman hidrometeorologi sebagai sebuah proses atau fenomena darat atmosferik, hidrologis atau oceanapis yang pada dasarnya dapat menyebabkan kehilangan nyawa, luka-luka atau dampak kesehatan lainnya. Kerusakan properti, kehilangan mata pencarian dan pelayanan, gangguan sosial ekonomi atau kerusakan lingkungan," beber Bambang.
(prf/ega)
Guru Besar IPB Soroti Pembalakan liar di Balik Bencana Banjir Sumatera
2026-01-12 05:42:40
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:10
| 2026-01-12 04:46
| 2026-01-12 04:22
| 2026-01-12 04:15
| 2026-01-12 03:38










































