Viral Narasi Peneliti Cambridge Sebut Usia 32 Tahun Masih Remaja, Apa Maksudnya?

2026-01-11 03:19:11
Viral Narasi Peneliti Cambridge Sebut Usia 32 Tahun Masih Remaja, Apa Maksudnya?
- Beberapa waktu belakangan, sebuah narasi ringkas beredar dan viral di media sosial menuliskan, "Peneliti dari Cambridge University Ungkap Jika Umur 32 Tahun Masih Dianggap Remaja".Bagi sebagian kita yang memasuki usia akhir 20-an atau awal 30-an, narasi tersebut terasa seperti oase di kala cicilan atau quarter life crisis mulai menghinggapi.Tapi, sebelum merasa hal ini adalah validasi atas kebingungan hidup, mari kita bedah apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh para ilmuwan di balik klaim tersebut.Baca juga: Australia Larang Remaja di Bawah 16 Tahun Punya Medsos, Meta Mulai Hapus AkunTim Kompas.com mencoba mencari sumber jurnal asli dari unggahan tersebut.Pencarian merujuk pada rilis dari University of Cambridge pada November 2025 lalu.Selanjutnya, Kompas.com berhasil mengakses jurnal penelitian yang terbit dalam Nature Communications pada 25 November 2025.Faktanya, yang dibahas peneliti bukan remaja dalam arti status sosial, aturan hukum, atau tahap hidup seperti definisi yang kita kenal sehari-hari.Riset ini justru membahas tentang fase perubahan jaringan otak dari lahir sampai lanjut usia.Memang, dalam salah satu fase tersebut, peneliti menggunakan istilah adolescent atau dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai remaja.Namun, yang dimaksud dalam fase ini adalah konektivitas otak.Sebagai informasi awal, riset ini dilakukan untuk memetakan bagaimana otak manusia terhubung dan berubah.Peneliti menggunakan pencitraan MRI pada 3.802 partisipan dalam rentang usia 0-90 tahun.Kemudian, tim peneliti menggunakan data tersebut untuk melihat pola konektivitas otak.Hasilnya, perkembangan otak manusia ternyata tidak linier melainkan punya 4 titik balik yang spesifik. Salah satunya adalah remaja pada usia 9-32 tahun."Kita tahu, susunan saraf otak sangat penting bagi perkembangan manusia, tapi kita belum memiliki gambaran besar tentang bagaimana itu berubah sepanjang hidup dan mengapa," kata pemimpin penelitian ini, Dr. Alexa Mousley dikutip dari laman resmi University of Cambridge, Selasa .


(prf/ega)