Hari Ibu 22 Desember 2025, Tiga Pahlawan Perempuan dari Sulawesi yang Mengubah Sejarah

2026-01-12 06:18:22
Hari Ibu 22 Desember 2025, Tiga Pahlawan Perempuan dari Sulawesi yang Mengubah Sejarah
- Peringatan Hari Ibu 22 Desember 2025 menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan perempuan Indonesia yang tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga berdiri di garis depan perlawanan, pendidikan, dan politik.Dari Sulawesi, tercatat sejumlah pahlawan perempuan Indonesia yang jejak perjuangannya masih relevan hingga kini.Di antaranya adalah Maria Walanda Maramis dari Sulawesi Utara, Agung Hajjah Andi Depu dari Sulawesi Barat, serta Opu Daeng Risadju dari Sulawesi Selatan.Ketiganya menunjukkan bahwa perjuangan perempuan Indonesia berlangsung lintas medan yakni pendidikan, organisasi, hingga perlawanan bersenjata.Artikel ini dikutip dari buku Tokoh dan Pahlawanku dari Sulawesi.Baca juga: Bacaan Doa Upacara Hari Ibu Ke-97 Tahun 2025 Resmi dari KemenPPPAMaria Walanda Maramis merupakan salah satu pahlawan nasional perempuan dari Sulawesi Utara yang dikenal sebagai pelopor perjuangan emansipasi perempuan di awal abad ke-20.Maria Walanda Maramis lahir di Kema, Sulawesi Utara, pada 1 Desember 1872. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, pasangan Maramis dan Sarah Rotinsulu. Kehidupan Maramis berubah drastis ketika kedua orang tuanya meninggal dunia saat ia berusia enam tahun.Ia kemudian diasuh oleh pamannya, Rotinsulu, yang saat itu menjabat sebagai Hukum Besar di Maumbi.Bersama saudara-saudaranya, Maramis dibawa ke Maumbi dan mengenyam pendidikan di Sekolah Melayu Maumbi, sekolah yang mengajarkan kemampuan dasar membaca, menulis, serta pengetahuan umum dan sejarah.Baca juga: Teks Amanat Pembina Upacara Hari Ibu Ke-97 Tahun 2025 Resmi dari KemenPPPAPendidikan tersebut menjadi satu-satunya pendidikan formal yang diterima Maramis.Pada masa itu, perempuan dianggap cukup dipersiapkan untuk menikah dan mengurus rumah tangga. Namun, Maria Walanda Maramis justru tampil sebagai pendobrak adat.Ia dikenal sebagai pejuang kemajuan dan emansipasi perempuan, terutama melalui tulisan-tulisannya di surat kabar lokal Tjahaja Siang di Menado.Melalui media, Maramis menyuarakan pentingnya pendidikan dan peran perempuan di ruang publik, termasuk politik.Pada 8 Juli 1917, Maramis mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya) dan menjadi pemimpinnya.Organisasi ini berkembang pesat dengan mendirikan cabang di berbagai wilayah Minahasa, seperti Maumbi, Tondano, dan Motoling, bahkan meluas hingga Pulau Jawa.


(prf/ega)