Unnes Siap Bebaskan UKT Mahasiswa Terdampak Banjir Aceh, Sumbar, dan Sumut

2026-01-12 05:13:48
Unnes Siap Bebaskan UKT Mahasiswa Terdampak Banjir Aceh, Sumbar, dan Sumut
SEMARANG, - Universitas Negeri Semarang (Unnes) memastikan siap memberikan keringanan hingga pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa yang terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.Kebijakan tersebut disampaikan Kepala Humas Unnes, Rahmat Petuguran, saat dikonfirmasi pada Selasa .“Kami sedang melakukan pendataan mahasiswa yang keluarganya menjadi korban,” ujar Rahmat.Ia menegaskan bahwa bantuan yang diberikan kampus akan fokus pada kebutuhan pendidikan mahasiswa yang kini mengalami kesulitan ekonomi akibat bencana besar di kampung halaman mereka.Baca juga: Aceh Dapat Bantuan Negara Lain, Menhan: Itu Bukan Bantuan AsingSaat ditanya bentuk bantuan yang disiapkan, Rahmat memastikan kampus membuka opsi keringanan hingga pembebasan UKT bagi mahasiswa terdampak.Sebelumnya, lebih dari 60 mahasiswa perantau asal Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara di Kota Semarang dilaporkan menghadapi tekanan ekonomi dan psikologis akibat bencana yang terjadi di daerah masing-masing.Salah satu mahasiswa, Novaldi Akbar Anugerah, mahasiswa Semester 3 UIN Walisongo Semarang sekaligus anggota organisasi perantau HIMSU, mengatakan banyak rekannya berada dalam situasi sulit.“Akses jalan di kampung masih banyak yang terblokir, banyak yang belum dapat bantuan, banyak yang kelaparan,” ujarnya.Meski keluarganya selamat, Novaldi mengaku khawatir karena banyak sanak-saudaranya masih terdampak banjir. Kondisi tersebut membuat mahasiswa perantau mengalami beban ganda—baik secara finansial maupun psikologis.“Banyak teman di sini kesulitan bayar kos, makan, bahkan komunikasi sama keluarga susah,” ucapnya.Posko bantuan mahasiswa Aceh–Sumatra di Tembalang mencatat 60–70 mahasiswa terdampak secara langsung. Namun, jumlah keseluruhan mahasiswa perantau dari daerah bencana yang sedang menempuh studi di Semarang diperkirakan lebih banyak.Para mahasiswa mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti biaya kos, makan, serta pembayaran semester.Biasanya, mereka mendapat kiriman dari keluarga di kampung. Namun kini banyak orang tua kehilangan pendapatan karena rumah rusak, akses terputus, dan usaha tidak dapat beroperasi.Sejumlah organisasi mahasiswa telah mendirikan posko bantuan untuk menyalurkan beras, mi instan, dan kebutuhan pokok lainnya. Namun, bantuan itu disebut belum cukup.“Kami berharap pemerintah segera tanggap. Banyak di antara kami kesulitan bukan karena malas, tapi karena keadaan di kampung darurat,” lanjut Novaldi.Hal senada disampaikan Malika Radyana, anggota Divisi Kaderisasi HIMSU UIN Walisongo. Ia bahkan sempat kehilangan kontak dengan neneknya saat banjir menerjang.“Saya sampai tak bisa tidur. Alhamdulillah sekarang sudah berhasil dievakuasi,” ujarnya.Dengan kondisi seperti ini, mahasiswa sangat berharap dukungan dari pemerintah, kampus, dan pihak terkait untuk menjamin keberlangsungan pendidikan mereka.


(prf/ega)