Grafiti Liar di Ruang Publik, Ekspresi Seni atau Merusak?

2026-01-12 04:41:56
Grafiti Liar di Ruang Publik, Ekspresi Seni atau Merusak?
JAKARTA, - Suatu pagi pada awal tahun ini, Tedi (45) dibuat terperangah di depan tokonya di Kramat, Senen, Jakarta Pusat.Rolling door ruko yang sehari-hari digunakan untuk usaha fotokopi dan alat tulis kantor (ATK) itu penuh oleh coretan tebal berwarna hitam.Tulisan tak beraturan itu menutupi hampir seluruh permukaan pintu logam.Belum sempat pulih dari kejadian itu, baru sebulan terakhir bagian samping dinding rukonya kembali menjadi sasaran.Baca juga: Jejak Grafiti di Jakarta, Antara Mural Estetik dan Coretan Liar“Sudah dua kali. Pagi mau buka toko, saya lihat lagi penuh tulisan,” kata Tedi saat ditemui Kompas.com di rukonya, Senin .Tedi harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengecat ulang. Namun, yang lebih ia cemaskan adalah persepsi pelanggan terhadap tempat usahanya.“Saya takut pelanggan mikir ini tempat enggak aman. Jadi menurunkan citra usaha saya juga,” ujar dia.Namun, ia tak berani menegur pelaku karena tidak mengenalnya.Tedi memahami, sebagian orang menyebut grafiti sebagai seni jalanan. Namun baginya, seni tetap harus menghormati ruang milik orang lain.“Kalau asal coret di tempat orang, itu bukan seni. Itu merusak,” katanya tegas.Sementara diskursus seni dan hak berekspresi terus bergulir, warga seperti Tedi harus menghadapi kerugiannya sendiri.Bagi pelaku usaha kecil, penurunan citra berarti hilangnya pendapatan.“Saya menghargai kreativitas, tapi harus ada batasnya,” kata Tedi.Baca juga: Tak Disangka, Grafiti Bikin Fermul Belajar Mengontrol EmosiCoretan ini tidak hanya mengusik Tedi.Pengamatan Kompas.com, Senin , di sejumlah wilayah Jakarta Pusat, Selatan, dan Timur, grafiti dalam bentuk mural maupun coretan spontan semakin banyak ditemui.


(prf/ega)