Gerbong Padat dan Rutinitas Tak Berujung Jutaan Pengguna KRL

2026-01-12 06:26:53
Gerbong Padat dan Rutinitas Tak Berujung Jutaan Pengguna KRL
JAKARTA, – Setiap hari, sebelum matahari terbit, jutaan warga Jabodetabek sudah bergerak menuju Jakarta dengan KRL. Dari Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi, aliran manusia mengalir menuju Jakarta sejak subuh.Gelombang komuter menciptakan ritme harian yang bukan hanya menghidupkan ibu kota, tetapi juga membentuk identitas sosial para penggunanya. Aktivitas pulang-pergi ini telah mengakar begitu dalam hingga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat urban.Deretan gerbong KRL menjadi simbol mobilitas terbesar di kawasan metropolitan. Bagi pekerja kantoran, teknisi, mahasiswa, hingga pelajar, perjalanan panjang itu bukan sekadar perpindahan, tetapi rutinitas yang melekat pada keseharian mereka.Baca juga: Realitas Pagi Buta Para Pengguna KRL Jabodetabek: Antara Lelah, Harapan, dan Tuntutan KerjaRutinitas yang sama setiap pagi dan sore telah membentuk pola yang semakin mengakar, bangun sebelum matahari terbit, berebut ruang di gerbong, berdiri selama puluhan kilometer, lalu pulang pada jam yang sama bersama jutaan orang yang menempuh perjalanan serupa.Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, memandang fenomena tersebut sebagai pola klasik yang muncul di berbagai kota besar dunia.Menurut dia, apa yang terjadi di Jabodetabek merupakan dinamika umum ketika pusat ekonomi, pendidikan, dan jasa terkonsentrasi di satu kota.“Ini menjadi fenomena yang lazim ya di dalam masyarakat di kota-kota besar di Asia, di Eropa ketika pusat ekonomi, perdagangan, pendidikan, dan jasa terkonsentrasi di sebuah kota," ujarnya.Menurut Rakhmat, keputusan banyak warga untuk tinggal di luar Jakarta dipengaruhi beragam faktor: ekonomi, budaya, psikologis, hingga kualitas hidup. Kota-kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi menawarkan hunian lebih terjangkau dan lingkungan yang lebih lapang.Fenomena ini bukan khas Indonesia. Paris, Berlin, London, Seoul, hingga Tokyo menunjukkan pola serupa: warga tinggal di pinggiran namun bekerja di pusat kota berkat akses transportasi massal yang memadai.Baca juga: Mulai 13 Desember, KAI Commuter Tambah Dua Perjalanan KRL Tanah Abang–Parung Panjang Pada jam-jam sibuk, perpindahan besar-besaran ini membuat populasi Jakarta melonjak drastis. Menurut Rakhmat, jumlah orang yang berada di Jakarta saat jam kerja bisa dua kali lipat dari jumlah penduduk yang tinggal secara permanen.“Misalnya bisa bayangkan Jakarta kalau jam kerja itu penduduknya bisa 30 juta jiwa tapi setelah sejam kerja itu penduduk Jakarta kurang lebih 15-20 juta jiwa,” kata Rakhmat.Ritme harian ini menunjukkan betapa vitalnya KRL dalam ekosistem metropolitan Jabodetabek.Dengan jarak yang jauh dan biaya hidup yang meningkat, para pekerja membutuhkan moda transportasi yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga memungkinkan mobilitas harian berlangsung efisien.Bagi para komuter, KRL adalah pilihan rasional, cepat dan terjangkau. Dengan jarak tempuh yang jauh dan biaya hidup yang tinggi, transportasi massal menjadi penopang utama mobilitas. Namun, Rakhmat menilai infrastruktur yang ada belum sepenuhnya mampu menampung kebutuhan komuter.Jalur yang terbatas membuat beberapa rute sangat padat, terutama Bogor dan Bekasi. Waktu tempuh dapat mencapai satu hingga satu setengah jam, belum termasuk perjalanan dari rumah ke stasiun dan sebaliknya.


(prf/ega)