UKRIDA Turut Bergerak dalam Program Tanggap Darurat Bencana Kemendikti Saintek di Sumatera Utara

2026-01-12 02:53:50
UKRIDA Turut Bergerak dalam Program Tanggap Darurat Bencana Kemendikti Saintek di Sumatera Utara
– Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) turut mengambil bagian dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana yang dikoordinasikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek).Program tersebut dilaksanakan melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendikti Saintek untuk merespons dampak banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.Program tersebut dirancang sebagai respons cepat atas bencana yang terjadi pada November 2025. Perguruan tinggi ditempatkan sebagai mitra strategis pemerintah daerah dan masyarakat melalui intervensi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi (IPTEK).Sebagai perwujudan dari salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), program tersebut disosialisasikan melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). Sasaran utamanya adalah perguruan tinggi, khususnya yang memiliki fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan.UKRIDA menjadi salah satu perguruan tinggi yang mendapat penugasan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Kemendikti Saintek melalui skema hibah.Dalam penugasan tersebut, kegiatan lapangan mulai dilaksanakan pada Selasa hingga Senin , dengan fokus di wilayah terdampak bencana di Sumatera Utara, khususnya Kabupaten Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah.Tim kesehatan UKRIDA berjumlah delapan orang dan dipimpin oleh Dr dr Yosephin Sri Sutanti, MS, SpOK, SubSpPsiKO(K).Selain UKRIDA, sekitar 60 perguruan tinggi lain dari unsur Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) juga turut bergerak dalam program tersebut.Program Kemendikti Saintek dirancang dalam delapan bidang intervensi, yakni distribusi logistik, layanan kesehatan dan gizi, pendampingan psikososial untuk penguatan resiliensi komunitas, rehabilitasi sanitasi lingkungan dan kebutuhan air bersih, pendidikan darurat, pemulihan ekonomi, dukungan administrasi publik, serta mitigasi dan edukasi kebencanaan.Kedelapan bidang itu dirancang agar respons tidak berhenti pada bantuan sesaat, tetapi berlanjut hingga fase pemulihan pascabencana.Tim UKRIDA memusatkan intervensi pada bidang yang dapat segera diterapkan dan langsung menjawab kebutuhan masyarakat terdampak bencana.Fokus tersebut meliputi penguatan layanan kesehatan primer, pendampingan psikososial (terutama bagi kelompok rentan) distribusi logistik yang relevan, serta edukasi kesehatan.Koordinasi dengan relawan setempat dan para pemangku kepentingan lokal juga dilakukan agar intervensi tidak tumpang tindih dan tepat sasaran.Sebelum layanan diberikan secara luas, tim UKRIDA berkoordinasi dengan pemerintah setempat, aparat desa dan kecamatan, tenaga kesehatan lokal, serta jejaring relawan yang telah lebih dulu bergerak.Pada fase itu, kegiatan difokuskan pada asesmen cepat, yaitu pemetaan titik pengungsian, identifikasi kelompok rentan, perkiraan kebutuhan kesehatan dominan, serta pemahaman kendala akses akibat longsor dan kerusakan jalan.Hasil asesmen menunjukkan bahwa kebutuhan warga tidak seragam antarlokasi. Beberapa titik pengungsian memiliki jumlah keluarga terdampak bencana yang signifikan, kepadatan tinggi, serta keterbatasan akses menuju layanan rujukan.Di salah satu titik pengungsian tercatat 78 kepala keluarga dengan komposisi kelompok rentan yang cukup besar, termasuk lansia, ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak.Pada titik lain, dilaporkan terdapat 44 kepala keluarga dengan total 174 jiwa, dengan proporsi anak dan remaja yang signifikan.Kondisi kepadatan pengungsi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit, gangguan kesehatan lingkungan, serta masalah psikososial.Dalam peninjauan lapangan, kepala daerah setempat menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim UKRIDA dan membuka peluang koordinasi lanjutan untuk wilayah yang masih membutuhkan bantuan.Bupati Tapanuli Utara Dr Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, SSi, MSi, serta Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu, SH, MH, turut meninjau dan berkoordinasi dengan tim UKRIDA dalam kegiatan tanggap bencana.Di Kabupaten Tapanuli Utara, kegiatan dilaksanakan di Kecamatan Adian Koting dengan lokasi terdampak bencana di Desa Sibalanga, Desa Pagaran Lambung, dan Desa Parsingkaman.Sementara itu, di Kabupaten Tapanuli Tengah, kegiatan berlangsung di Kecamatan Sitahuis dengan lokasi terdampak di Desa Nauli, Desa Rampa, dan Desa Bonandolok.Komponen utama penugasan UKRIDA adalah layanan kesehatan primer yang dibawa mendekati masyarakat terdampak bencana, menyesuaikan kondisi akses yang tidak selalu stabil.Layanan meliputi pemeriksaan kesehatan, pemberian terapi dasar sesuai indikasi, edukasi kesehatan, dan penilaian awal untuk kasus yang memerlukan tindak lanjut.Keluhan yang paling sering ditemukan meliputi gangguan saluran napas atas akibat kepadatan pengungsian dan perubahan cuaca.Keluhan lain yang banyak dijumpai adalah nyeri otot dan sendi akibat kelelahan fisik, aktivitas pembersihan pascabencana, kualitas tidur yang menurun, dan stres.Gangguan pencernaan juga ditemukan, yang dipengaruhi perubahan pola makan, keterbatasan menu, dan jadwal makan yang tidak teratur.Selain itu, kasus penyakit kronis, seperti hipertensi dan diabetes, juga memerlukan perhatian khusus karena akses obat dan kontrol rutin sering terganggu saat bencana.Beberapa keluhan kulit dan kondisi lain juga muncul akibat paparan lingkungan pascabencana.Berdasarkan rekap pelayanan di sejumlah titik, layanan kesehatan UKRIDA menjangkau lebih dari 300 warga dari berbagai kelompok usia.Angka tersebut mencerminkan luasnya cakupan layanan sekaligus kompleksitas kebutuhan kesehatan pascabencana.Dok. UKRIDA Pendampingan anak-anak terdampak bencana oleh Tim Layanan Kesehatan UKRIDA dalam Program Tanggap Darurat Bencana Kemendikti Saintek di Sumatera Utara.UKRIDA juga menempatkan pendampingan psikososial sebagai bagian integral dari proses pemulihan.Pendampingan psikososial merupakan salah satu pilar utama intervensi Kemendikti Saintek, dengan fokus pada penyembuhan trauma dan konseling bagi kelompok rentan.Fokus utama UKRIDA diarahkan pada anak-anak dan lansia yang lebih berisiko mengalami kecemasan berkepanjangan, gangguan tidur, hingga stres pascatrauma.Kegiatan psikososial untuk anak dilaksanakan dalam format ramah anak melalui psikoedukasi kebencanaan, orientasi diri, latihan relaksasi sederhana, serta terapi ekspresif.Kegiatan itu diutamakan untuk menjangkau anak usia sekolah dasar dan dilaksanakan dengan pendampingan unsur sekolah serta fasilitator.Untuk lansia, pendampingan diarahkan pada dukungan emosional, relaksasi, serta penguatan semangat pemulihan.Layanan kesehatan lansia juga diperkuat melalui pemeriksaan dan edukasi, mengingat tingginya risiko perburukan penyakit kronis pada kelompok usia ini.Jika layanan kesehatan primer berfokus pada pemulihan fisik, layanan psikososial berperan dalam penguatan mental. Keduanya menjadi elemen penting dalam pemulihan pascabencana yang utuh.Selain layanan kesehatan dan psikososial, UKRIDA turut memberikan dukungan logistik berdasarkan kebutuhan yang ditemukan di lapangan.Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah distribusi popok dan susu di beberapa titik komunitas sebagai dukungan kebutuhan dasar keluarga terdampak.Distribusi logistik menjadi bagian dari bidang intervensi Kemendikti Saintek dengan penekanan pada pemenuhan kebutuhan mendesak warga.Integrasi antara asesmen kebutuhan, layanan kesehatan, dan distribusi logistik dilakukan agar bantuan lebih tepat guna, terutama bagi keluarga dengan balita dan kelompok rentan.Keterlibatan UKRIDA dalam program tersebut menunjukkan peran perguruan tinggi yang melampaui dukungan logistik semata.Melalui layanan kesehatan, pendampingan psikososial, dan dukungan kebutuhan dasar, UKRIDA berupaya menghadirkan kontribusi yang relevan dan berkelanjutan.Upaya tersebut sejalan dengan moto UKRIDA, yaitu “LEAD To Impact”.Di tengah meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan relawan perlu terus diperkuat.Program tersebut menegaskan pentingnya membangun kapasitas kesiapsiagaan yang lebih sistemik agar respons darurat semakin efektif dan pemulihan berlangsung lebih cepat serta tepat sasaran.Dalam konteks tersebut, UKRIDA turut mengambil bagian dalam mewujudkan kasih kepada sesama melalui Program Tanggap Darurat Bencana di Sumatera.


(prf/ega)