JAKARTA, - Memasuki usianya yang ke-100, keberadaan Bendungan Walahar di Karawang, Jawa Barat, tetap berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik.Bahkan, Direktur Utama (Dirut) Perum Jasa Tirta II yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) periode 2016-2018 Imam Santoso memuji Walahar agar pembangunannya bisa dicontoh insinyur struktur.Baca juga: Apa Perbedaaan Bendung dan Bendungan?Imam mengatakan hal ini dalam media gathering Bendung Walahar di Karawang, Jawa Barat, Selasa ."Nah, saya berharap bahwa para insinyur, para insinyur struktur itu bisa mencontoh bangunan ini bahwa ini tidak lekag oleh waktu dan bisa bertahan sampai sekarang," ungkap Imam."Makanya, patut kita rayakan bahwa usia yang 100 tahun dari Bendung Walahar ini benar-benar bisa bermanfaat bagi kita semua dan negara," lanjutnya.Sebagaimana diketahui, Bendung Walahar dibangun pada 1920 dan diresmikan pada 1925 oleh Direktur Pekerjaan Umum (PU) Sipil asal Belanda J Blackstone pada masa kepemimpinan Bupati Karawang periode 1925-1942 Raden Adipati Aria Suryamiharja, serta Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1921-1926 Mr Dirk Fock.Baca juga: 48 Bendungan Masuk Proyek Strategis Nasional, Ini DaftarnyaBendung yang melintang sekitar 50 meter di Sungai Citarum ini, awalnya dirancang untuk menaikkan muka air hingga delapan meter agar aliran dapat menjangkau wilayah Karawang bagian utara.Dari sana, air dialirkan ke arah barat dan timur melalui Induk Tarum Utara, yang hingga kini menjadi nadi kehidupan masyarakat Karawang.Dengan arsitektur kuno yang khas dan peralatan yang sebagian besar masih orisinil sejak masa pembangunannya, Bendung Walahar adalah bukti nyata ketangguhan teknologi masa lampau yang dirawat dengan penuh dedikasi oleh para profesional PJT II.Mengutip Jurnal Universitas Indraprasta PGRI, Bendungan Walahar memiliki tinggi 150 meter dengan lebar 200 meter dan terdiri dari tiga bagian.Bagian pertama adalah bagian bawah bendungan yang merupakan dam dengan lima pintu air.Dari pintu-pintu air ini lah air Sungai Citarum mengalir, untuk mengairi sawah-sawah di Karawang.Baca juga: Seabad Bendung Walahar, Airi 87.194 Hektar Lahan Pertanian di KarawangBagian kedua adalah jembatan jalan selebar 3 meter yang membentang di tubuh Bendungan Walahar.Jembatan ini menghubukan dua desa, yaitu Desa Klari dan Anggadita. Langit-langit jembatan penahan atap Bendungan berbentuk melengkung.Bagian ketiga adalah beberapa ruangan yang digunakan untuk mengawasi debit air dan tempat mesin.Bendungan Walahar memiliki keunikan dari segi arsitektur, yaitu bangunannya yang memadukan antara arsitektur Eropa dan Tionghoa.Ini di mana arsitektur Tionghoa dalam Bendungan Walahar dapat dilihat dari atap susun (ma tou qiang) yang digunakan dan adanya ornamen naga di atas tembok di lantai 2.
(prf/ega)
Berdiri Kokoh Satu Abad, Bendungan Walahar Jadi Contoh Keahlian Insinyur Struktur
2026-01-11 04:10:35
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 04:03
| 2026-01-11 02:45
| 2026-01-11 02:42










































