Akademisi: Siasat "Mendayung di Dua Karang" di Tengah Ketegangan China-Jepang

2026-01-12 04:43:57
Akademisi: Siasat
- Pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menganggap skenario serangan Republik Rakyat China (RRC) kepada Taiwan sebagai sebuah situasi ancaman bagi negaranya direspons secara agresif RRC.Upaya Jepang untuk mendinginkan suasana tidak digubris pihak RRC.Sebaliknya, RRC cenderung meningkatkan eskalasi ketegangan dengan melakukan berbagai manuver, termasuk meminta warganya untuk tidak berkunjung ke Jepang, pemberhentian impor makanan laut dari Jepang, serta melakukan berbagai aktivitas militer di dekat Kepulauan Senkaku yang berpotensi menambah runyam keadaan.Keadaan makin memanas seiring tindakan China mengunci radar pengendali tembakan pesawat tempur mereka ke arah pesawat Jepang di dekat kepulauan Okinawa.Beberapa akademisi, pemerhati hubungan internasional, pemerhati China, serta praktisi dan pakar pertahanan, berpandangan Indonesia harus tetap mengedepankan netralitas dalam menghadapi situasi di atas.Penegasan ini disampaikan dalam diskusi ilmiah “Menghadapi Risiko Eskalasi di Indo Pasifik: Strategi Indonesia Menjaga Kepentingan Nasional di Tengah Rivalitas China-Jepang,” yang diselenggarakan Fakultas Strategi Pertahanan (FSP) Universitas Pertahanan (Unhan) dan Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta .Pengajar Program Studi Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Chaula Rininta Anindya, PhD, menjelaskan respons agresif China terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang  yang mencakup aspek diplomasi, ekonomi, dan keamanan bukan kali pertama dilakukan China.“China pernah melakukan strategi serupa ketika berada dalam situasi konflik dengan Korea Selatan mengenai penempatan ‘Baterai Pertahanan Area Terminal Jangkauan Tinggi’ (THAAD) sekitar satu dasawarsa lalu,” jelasnya.Berdasarkan penuturannya, saat itu China juga melakukan himbauan bagi warganya untuk menghindari melakukan perjalanan ke Korea Selatan, melakukan pelarangan produk dan entertainment asal Korea, penutupan pusat belanja asal Korea, yaitu Lotte, melakukan tekanan militer dengan mengirim pesawat China memasuki zona pertahanan Korea Selatan.Pemerhati China dan dosen pada Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH), Johanes Herlijanto berpandangan, terdapat sejumlah faktor di balik respons keras China terhadap pernyataan perdana menteri Jepang di atas.Baca juga: PM Jepang-China Cuek-cuekan di KTT G20, Tak Saling Sapa“Pertama, isu Taiwan merupakan isu sensitif bagi Beijing karena berkaitan erat dengan legitimasi Partai Komunis China (PKC), upaya China mengambil kembali apa yang mereka anggap sebagai ‘teritorial yang hilang’, serta pengakuan dari negara lain terhadap apa yang China anggap sebagai kedaulatannya,” tutur Johanes saat DOK. FSI Seminar bertajuk Menghadapi Risiko Eskalasi di Indo Pasifik: Strategi Indonesia Menjaga Kepentingan Nasional di Tengah Rivalitas China-Jepang diselenggarakan FSP Unhan dan FSI di Jakarta .Menurut Johanes yang juga Ketua FSI itu, alasan kedua adalah karena Jepang merupakan sosok yang dikonstruksi oleh China sebagai sosok antagonis melalui narasi sejarah dan budaya populer di China.Selain itu, menurutnya, situasi internal China juga memainkan peran penting di balik sikap keras China.“Kondisi dalam negeri China tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja, mengingat ekonomi yang belum pulih serta terdapat berbagai peristiwa yang berpotensi mempengaruhi kondisi politik, seperti pemecatan beberapa jenderal dan pejabat tinggi penting dalam beberapa tahun terakhir," jelasnya."Oleh karenanya penting bagi Beijing untuk menggalang dukungan dari rakyatnya. Eskalasi ketegangan dengan Jepang dapat menjadi bahan bakar bagi penggalangan nasionalisme yang diharapkan dapat meningkatkan dukungan semacam itu,” katanya.


(prf/ega)