Konten Sosmed Bisa Bikin Anak Jadi Agresif?

2026-01-12 07:15:56
Konten Sosmed Bisa Bikin Anak Jadi Agresif?
JAKARTA, - Konten sosial media sosial (medsos) ditengarai menjadi biang kerok dari berbagai tindakan kekerasan dan perilaku agresif anak-anak. Memperingati Hari Anak Sedunia yang jatuh pada 20 November 2025 kemarin, apakah anak-anak Indonesia sudah terlindungi secara optimal dari dunia digital?Salah kasus yang menjadi perhatian publik, ketika terjadi ledakan di SMAN 72 Jakarta yang diduga dilakukan pelajar sekolah tersebut.Baca juga: Mengintip Celah Perekrutan Teroris di Gim OnlineKasus ini menguak kekhawatiran akan akrabnya anak-anak dengan kekerasan yang disebabkan konsumsi media digital.Dari tontonan hingga permainan daring (gim online), paparan terhadap konten kekerasan kini lebih mudah diakses oleh siapapun, termasuk anak-anak.Namun, dampaknya dinilai hanya menumpulkan empati, melainkan pula mendorong perilaku agresif dan ekstrem, seperti keinginan membuat bom atau membawa senjata.Benarkah klaim penilan itu?Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan, konten negatif yang beredar luas di dunia maya bisa menjadi penyebab anak berprilaku agresif dan mereplikasinya di dunia nyata.“Sebenarnya kalau kita bicara tentang konten negatif, itu tidak hanya yang bermuatan kekerasan ya, tapi juga kan ada yang bermuatan pornografi, ada yang bermuatan konten judi online, terus ada yang bermuatan terkait dengan apa perilaku negatif yang dapat mempengaruhi anak atau mendorong anak juga menirukan berlaku-berlaku tersebut,” kata Margaret kepada Kompas.com, Jumat ./Tria Sutrisna Ketua Umum PP Fatayat Nahdlatul Ulama Margaret Aliyatul Maimunah saat ditemui dalam acara Konferensi Besar Fatayat NU 2024, Jumat .Margaret mengatakan bahwa seluruh konten negatif sangat berbahaya bagi anak tanpa adanya pendampingan dan pengawasan dari orang dewasa. Dia bilang, anak merupakan mahluk yang rentan, dan tak mampu menyaring konten-konten yang baik dan buruk.“Jadi sebenarnya semua konten negatif itu berbahaya karena berdampak kepada anak. Apalagi kalau itu ditonton berkali-kali, ditambah dengan tanpa adanya pendampingan dari orang dewasa. Karena kan anak ini adalah kelompok rentan yang memang belum punya filter yang bagus,” ungkap dia.Sementara itu, psikolog anak dan keluarga, Samanta Ananta menilai bukan hanya konten di sosial media saja yang menjadi penyebab anak - anak berprilaku agresif.Menurut dia ada faktor lain, seperti keluarga, dan lingkungan tempat tinggal yang juga menjadi salah satu kunci penting yang tak dapat diabaikan.“Masalah pengasuhan di rumah, (adanya) contoh (kekerasan) atau tidak, seperti apa perilaku yang disaksikan anak sehari-hari, pernah menyaksikan peristiwa apa saja yang membuat dirinya jadi terkontaminasi dari efek negatif konten, games, atau perilaku lingkungan sekitar anak sehari-hari, karena anak hanya mencontoh dari apa yang ia lihat di lingkungannya,” kata Samanta kepada Kompas.com, Jumat .Baca juga: Kasus Anak SD Hajar Siswa SMP di Purworejo Masuk Tahap Penyidikan, Polisi Tegaskan Bukan BullyingDia mengatakan, konten, gim ataupun tayangan film yang mengandung agresivitas dapat memengaruhi otak anak sehingga anak dapat mencontoh untuk melakukan perilaku agresif terutama jika tidak ada pengawasan dan arahan dari orangtua.


(prf/ega)