JAKARTA, - Di cakrawala ekonomi Indonesia yang dinamis, sektor properti kerap dipandang sebagai raksasa yang tertidur, sebuah entitas yang pergerakannya lamban namun memiliki resonansi mendalam terhadap stabilitas nasional.Melihat kaleidoskop 2025 dan meneropong fajar 2026, narasi yang berkembang bukan lagi tentang kepasrahan di tengah ketidakpastian, melainkan sebuah manifestasi dari daya tahan yang gigih.Baca juga: Transformasi Kampung Tanjung Sari Bikin Harga Properti Melejit 3 Kali LipatSektor properti Indonesia menolak untuk mati suri; ia sedang bersalin rupa, bermetamorfosis di tengah labirin tantangan struktural demi menjemput peluang yang kian nyata.Menurut riset Colliers, Indonesia berdiri di atas fondasi makroekonomi yang kokoh, dengan proyeksi pertumbuhan stabil di angka lima persen.Kekuatan ini tidak muncul secara aksidental, melainkan dipacu oleh trilogi mesin pertumbuhan: hilirisasi industri yang agresif, akselerasi ekonomi digital, dan gelombang urbanisasi yang tak terbendung.Indonesia diproyeksikan menjadi mercusuar pertumbuhan di Asia Pasifik pada tahun 2026, sebuah optimisme yang diperkuat oleh proyeksi IMF yang memberikan suntikan kepercayaan bagi para investor global.Baca juga: Muda Kaya Raya, Aset Properti Bupati Bekasi Tembus Rp 76 MiliarNamun, angka pertumbuhan ini harus berhadapan dengan realitas depresiasi rupiah. Meski fluktuasi nilai tukar ini dipicu oleh faktor global yang bersifat volatile, fundamental domestik yang kuat bertindak sebagai jangkar.Bagi sektor real estat, depresiasi moderat ini sejatinya bersifat netral hingga positif, meski tetap menyisakan kerikil tajam pada aspek biaya konstruksi dan struktur pembiayaan."Di sinilah letak ujian bagi para pengembang: bagaimana menjaga disiplin leverage dan efisiensi material di tengah fluktuasi harga global," tutur Managing Director Colliers Indonesia, Michael D. Broomell, dikutip Kompas.com, Selasa .Jika kita membedah jantung sektor residensial, rumah tapak tetap menjadi primadona yang tak tergoyahkan.Fenomena urban sprawl atau pemekaran kota ke arah wilayah satelit terus menjadi katalisator utama bagi permintaan hunian dan sewa.Baca juga: Harga Properti di Jalur MRT Jakarta Melonjak Dua Kali LipatHead of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menuturkan, pertumbuhan jangka menengah hingga panjang tetap solid, terutama didorong oleh kelas menengah yang kian mapan dengan daya beli yang pulih secara bertahap.Namun, di balik kegemilangan tersebut, risiko struktural mulai membayangi. Kepadatan penduduk yang meningkat tajam di kawasan penyangga, kendala infrastruktur dan zonasi yang belum sepenuhnya sinkron, serta kian langkanya lahan premium, memaksa para pengembang untuk lebih kreatif."Ke depan, residensial bukan lagi sekadar soal membangun dinding dan atap, melainkan bagaimana menciptakan ekosistem kehidupan yang terintegrasi dengan moda transportasi massal," beber Ferry.Semenetara, di segmen pasar perkantoran, Jakarta saat ini sedang mengalami dialektika yang menarik. Hingga kuartal ketiga 2025, pasokan baru kian terbatas, dengan Menara Jakarta menjadi satu-satunya suplai baru yang signifikan.
(prf/ega)
[KALEIDOSKOP PROPERTI] Raksasa yang Tertidur Menolak Mati Suri
2026-01-14 03:29:02
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-14 03:48
| 2026-01-14 02:12










































