Sejarah Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, 5 November 2025

2026-01-12 03:45:53
Sejarah Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, 5 November 2025
- Setiap tanggal 5 November, kita merayakan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional.Bukan sekadar melihat hijaunya daun atau kicuan burung, peringatan ini sekaligus untuk menyadari bahwa setiap bunga yang tumbuh dan hewan yang hidup adalah bagian keseimbangan besar yang menopang kehidupan manusia. Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang disingkat HCPSN menjadi momentum untuk mengingat kembali tanggung jawab bersama terhadap kelestarian alam Nusantara. Baca juga: Alfred Russel Wallace, Peneliti Flora dan Fauna Inggris di IndonesiaDilansir dari Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 1993 oleh Presiden Soeharto.Pada masa itu, pemerintah menyadari bahwa Indonesia, meski dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, menghadapi ancaman serius dari perburuan liar, eksploitasi berlebihan, dan kerusakan habitat.Sementara itu, melalui laman resmi universitas, Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda, Dewi Wahyuni mengungkapkan puspa dan satwa dalam KBBI berarti bunga dan hewan. Puspa dan satwa merupakan salah satu unsur kehidupan yang penting dalam kehidupan. Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan puspa dan satwa ini. Sehingga sudah tentu wajib untuk kita terus jaga dan dipelihara agar keberadaanya tetap lestari.Melalui Keppres tersebut, pemerintah menetapkan tanggal 5 November sebagai hari nasional untuk menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap flora dan fauna, bukan hanya yang langka, melainkan juga yang tumbuh dan hidup di sekitar manusia sehari-hari. Arwana super red alias silok merah (Scleropages formosus).Sebagai simbol keberagaman dan kekayaan hayati Indonesia, Presiden Soeharto menetapkan tiga jenis puspa (bunga) dan tiga jenis satwa (hewan) sebagai simbol nasional.Ketetapan ini bukan hanya simbol kebanggaan, melainkan juga ajakan agar masyarakat memahami makna di baliknya: setiap spesies memiliki peran dalam rantai kehidupan yang saling terhubung.Baca juga: Alfred Russel Wallace, Peneliti Flora dan Fauna Inggris di IndonesiaSHUTTERSTOCK/MHEEPANDA Ilustrasi tanaman bunga melati. Melati dikenal sebagai salah satu bunga yang memiliki aroma yang sangat wangi dan sering diekstrak untuk dijadikan parfum dan berbagai wewangian lainnya.Tahun ini, HCPSN mengangkat tema “Pulihkan Keanekaragaman Hayati, Lestarikan Kehidupan Bumi." Tema ini menjadi pengingat bahwa pelestarian flora dan fauna bukan hanya tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama.Setiap pohon yang tumbuh dan setiap hewan yang hidup adalah bagian dari jantung bumi yang terus berdenyut menjaga kehidupan.Dengan tema tersebut, pemerintah bersama masyarakat diajak untuk: Baca juga: Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Ada Peran Presiden SoehartoMeski Indonesia memiliki sekitar 919 jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 92 Tahun 2018, ancaman terhadap mereka belum juga reda.Hilangnya hutan akibat alih fungsi lahan, penebangan liar, dan perdagangan satwa ilegal menjadi penyebab utama penurunan populasi banyak spesies endemik.Komodo, misalnya, kini hanya bisa ditemukan di kawasan tertentu di Nusa Tenggara Timur. Elang Jawa, yang dulunya terbang bebas di pegunungan Pulau Jawa, kini jumlahnya diperkirakan kurang dari 250 ekor di alam liar.Di Sumatera, Rafflesia arnoldii, si padma raksasa juga semakin sulit ditemukan karena kerusakan habitat hutan hujan tropis yang menjadi rumahnya.Menjaga puspa dan satwa bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab moral seluruh warga negara. Dari setiap tindakan kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan hingga tidak membeli satwa dilindungi, menjadi bentuk peran kita dalam pelestarian. Baca juga: Perlindungan Komodo, Ikon Hari Cinta Puspa Satwa Nasional


(prf/ega)