Bahayanya Terjerat Bujuk Rayu Bank Keliling, Terbelenggu dalam Rantai Kemiskinan

2026-01-12 06:06:51
Bahayanya Terjerat Bujuk Rayu Bank Keliling, Terbelenggu dalam Rantai Kemiskinan
JAKARTA, - Keberadaan bank keliling di kota-kota besar, terutama Jakarta, terus eksis hingga saat ini.Bank keliling menawarkan jasa pinjam uang dari rumah ke rumah dengan waktu yang instan dan syarat tak rumit.Nasabah yang ingin meminjam uang cukup bermodalkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja.Mudahnya proses pencairan membuat eksistensi bank keliling di kota besar tak tergerus zaman, meski kini bermunculan jasa pinjaman online (pinjol).Namun, karena target pasar bank keliling adalah masyarakat kelas menengah bawah yang tinggal di pemukiman padat dan kurang melek teknologi, maka keberadaannya tetap dibutuhkan.Baca juga: Utang Pinjol Rp 1 Juta Menyeret Siska ke Lingkaran Gali Lubang Tutup LubangMasyarakat kelas menengah bawah enggan pinjol karena prosesnya dinilai lebih sulit dari bank keliling."Kalau pinjol mah enggak pernah, ribet kayanya. Kalau ini kan KTP ama tanda tangan aja," jelas salah satu warga Koja, Jakarta Utara, bernama Darto (47) saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Senin .Darto mengaku terpaksa meminjam bank keliling karena seringkali terdesak kebutuhan ekonomi, seperti biaya makan dan sekolah anaknya.Pasalnya, Darto harus menghidupi istri dan tiga orang anak yang masih belia, sementara pendapatannya sebagai tukang servis jam seringkali tak cukup.Hal itu pula yang membuat Darto menganggap bank keliling sebagai 'dewa penolong' untuk dirinya yang sering kali terjepit masalah ekonomi.Di sisi lain, ketika utangnya hendak lunas, Darto selalu dibujuk untuk mengambil pinjaman lagi oleh petugas bank keliling."Kadang saya udah lunas, udah enggak mau utang, tapi dibujuk suruh ambil lagi karena udah langganan," jelas Darto.Baca juga: Siska Korban Pinjol, Bagaimana Utang Kecil Menjadi Beban Besar?Sama seperti Darto, warga Manggarai, Jakarta Selatan, bernama Ria (58) mengaku sering kali termakan bujuk rayu bank keliling."Dia sih bujuk rayu mulu, karena dia kadang maksa dia bilang udah bayarnya enggak setiap hari enggak apa-apa. Padahal kita kalau enggak dagang ngapain minjam," ujar Ria.Merasa sudah mengenal baik petugas bank keliling, akhirnya Ria pun memutuskan untuk meminjam lagi meski hanya sekitar Rp 500.000.Di sisi lain, ia berani mengambil pinjaman lagi karena ketika tak bisa mencicil dalam satu hari, petugas bank keliling mengerti dan tak memarahinya.Sejumlah petugas bank keliling mengaku, mencari nasabah sebanyak-banyaknya merupakan tugas utama mereka.Pasalnya, semakin banyak nasabah, maka gaji yang mereka terima per bulan akan semakin besar."Dulu zaman saya itu delapan persen, tergantung lihat drop atau nagihnya. Kalau saya bisa nerima minimal Rp 4 juta dan ada targetnya," ujar salah satu petugas bank keliling bernama Carlos (38).Carlos mengaku, kini ia menjalani bisnis bank keliling dengan modalnya sendiri alias tidak lagi bekerja dengan orang.Saat ini, ia memiliki nasabah sekitar 90 orang yang tersebar di beberapa wilayah Jakarta Pusat dan Timur, seperti Utan Kayu, Kramat, Kenari, Djuanda, hingga Pasar Baru.Biasanya, Carlos akan memberikan pinjaman kepada para ibu rumah tangga dan pedagang yang memang membutuhkan modal.


(prf/ega)