Hari Bakti ke-1 KemenImipas, Menteri Agus: PRIMA Bukan Hanya Slogan

2026-02-03 23:11:53
Hari Bakti ke-1 KemenImipas, Menteri Agus: PRIMA Bukan Hanya Slogan
Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan (KemenImipas) memperingati sekaligus mengadakan syukuran Hari Bakti ke-1. Acara terpusat di lapangan Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA, Cipinang, Jakarta Timur (Jaktim).Peringatan bertajuk 'Satu Langkah, Satu Semangat, Satu Pengabdian untuk Bangsa' ini dipimpin Menteri Imipas Agus Andrianto selaku inspektur upacara."Memasuki usia satu tahun, kita perlu memperkuat identitas kelembagaan melalui internalisasi nilai PRIMA," tegas Menteri Agus di lokasi upacara, Rabu .Dia lalu menjabarkan slogan PRIMA yakni profesional dalam bekerja berbasis data, kompetensi dan standar pelayanan. Lalu responsif terhadap kebutuhan publik dan dinamika global.Ketiga, integritas sebagai pondasi kepercayaan masyarakat. Kemudian modern dalam tata kelola teknologi dan budaya kerja. Kelima adalah akuntabel dalam setiap penggunaan anggaran, kewenangan dan pelayanan."Nilai PRIMA bukan hanya slogan, tetapi harus menjadi DNA organisasi, menjadi karakter setiap insan imigrasi dan permasyarakatan dalam melayani tugas-tugas kenegaraan," ujar Menteri Agus.Dia lalu menyampaikan tahun pertama berdirinya kementerian ini merupakan masa yang tak mudah karena adanya proses transisi setelah berpisah dari payung Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Diketahui Presiden Prabowo Subianto membagi Kementerian Hukum dan HAM menjadi tiga yakni Kementerian Hukum, Kementerian HAM dan Kementerian Imipas."Masa transisi, masa adaptasi, tahun kerja keras. Kita semua belajar menyatukan visi, menyamakan langkah, lalu membangun pondasi yang kokoh untuk rumah besar kita, Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan," jelas Menteri Agus.Lihat juga Video: Napi Nusakambangan Bisa Produksi MOCAF, Ini Harapan Menteri Imipas[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-03 22:50