Kaleidoskop 2025: Permukiman Padat, MCK Minim, dan Ketimpangan Layanan di Jakarta Pusat

2026-02-02 12:42:55
Kaleidoskop 2025: Permukiman Padat, MCK Minim, dan Ketimpangan Layanan di Jakarta Pusat
JAKARTA, — Sepanjang 2025, jantung Kota Jakarta kembali menampilkan wajah kontras Ibu Kota yang tak pernah sepenuhnya selesai.Di tengah laju pembangunan gedung bertingkat, pusat bisnis, dan proyek infrastruktur, sejumlah permukiman padat di Jakarta Pusat masih bergulat dengan persoalan mendasar: sanitasi buruk, minim fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), serta lingkungan yang kian rentan bagi kesehatan dan keselamatan warganya.Catatan Kompas.com sepanjang 2025 menunjukkan persoalan permukiman kumuh di Jakarta Pusat bukan sekadar cerita lama yang berulang, melainkan gambaran nyata ketimpangan layanan dasar yang masih dialami ribuan warga.Bau limbah, air sungai yang menghitam, serta toilet yang pembuangannya langsung ke kali menjadi potret keseharian yang terus berulang dari tahun ke tahun.Baca juga: Kaleidoskop 2025: Tragedi Penembakan Bos Rental dan Hukuman Ringan Anggota TNISalah satu lokasi yang kerap menjadi sorotan adalah permukiman padat di Jalan Awaludin II dan Kebon Pala III, Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.Wilayah ini mencakup RT 15, RT 16, dan RT 17 RW 14, kawasan yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai titik hunian kumuh dengan sanitasi buruk dan tingkat kerentanan lingkungan yang tinggi.Permukiman tersebut berdiri tepat di bantaran Kali Krukut, tidak jauh dari pertemuannya dengan Kali Ciliwung dan area Stasiun Karet.Secara geografis, lokasinya berada di pusat kota. Namun, kondisi lingkungannya seolah terlepas dari denyut modernisasi Jakarta.Akses menuju permukiman hanya berupa gang sempit selebar dua hingga tiga meter. Rumah-rumah berdiri rapat tanpa jarak, sebagian bahkan menempel langsung ke bibir kali.Tidak sedikit bangunan yang dibangun menjorok di atas aliran air, ditopang tiang-tiang kayu yang tampak rapuh dan sebagian telah keropos.Pengamatan Kompas.com di lokasi menunjukkan bangunan warga berdiri tidak beraturan. Dinding rumah banyak terbuat dari seng, tripleks, dan papan kayu lapuk dengan warna yang memudar.Beberapa bagian dinding tampak berlubang, sementara atap seng menampakkan bekas karat. Ruang terbuka hampir tidak ditemukan. Sirkulasi udara buruk, membuat gang terasa pengap dan lembap.Baca juga: Kaleidoskop 2025: Deretan Pergub Penting yang Dikeluarkan Pramono AnungJemuran pakaian bergelantungan di tali-tali yang ditarik dari satu rumah ke rumah lain, menutup sebagian langit dan mempersempit ruang gerak warga.Di bawah deretan rumah itu, Kali Krukut mengalir lambat. Airnya berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau menyengat. Sampah plastik minuman, sisa makanan, kain bekas, styrofoam, hingga potongan kayu mengapung di permukaan air.Di beberapa titik, sedimentasi terlihat jelas, menandakan penyempitan aliran akibat tumpukan sampah dan bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan bibir kali.Pada bagian bawah rumah-rumah yang menjorok ke kali, dinding terlihat bolong dan dipenuhi lumut serta kerak hitam.Sejumlah pipa kecil dari rumah warga tampak langsung membuang air cucian, sisa mandi, hingga limbah kakus ke aliran sungai.Tidak terlihat adanya instalasi pengolahan air limbah atau septic tank yang memadai. Limbah domestik bercampur dengan sampah padat, menciptakan genangan air hitam yang stagnan di beberapa titik.Di salah satu sudut sungai, anak-anak terlihat duduk di tepian kali yang dipenuhi sampah, tanpa alas kaki.Baca juga: Kampung Kumuh Jadi Wisata Unggulan Semarang, Puan Dukung Pengembangan Kampoeng Djadhoel Mereka memainkan botol plastik yang dialirkan dari arah hulu, seolah menjadikan aliran limbah sebagai arena bermain. Aktivitas itu berlangsung hanya beberapa meter dari genangan air yang berbau menyengat.Di sisi lain, sepeda motor diparkir di teras rumah yang sebagian lantainya menjorok tepat di atas aliran kali. Balok penopang teras tampak rapuh dan terlihat ditambal berulang kali, memperlihatkan risiko keselamatan yang mengintai./Lidia Pratama Febrian MCK Langsung ke Kali, Mengungkap Wajah Buram Sanitasi Kebon MelatiMemasuki gang kecil yang lebih dalam, berdiri sebuah toilet umum tiga pintu dengan dinding kayu berwarna merah. Catnya sudah mengelupas. Bagian dalamnya gelap, lantai becek, dan aroma menyengat tercium bahkan dari luar pintu.Pengamatan Kompas.com menunjukkan tidak ada saluran limbah tertutup. Air dari toilet langsung mengalir menuju Kali Krukut.Toilet ini digunakan secara bergantian oleh beberapa kepala keluarga yang tidak memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing.Selain toilet umum, sejumlah warga membuat saluran pembuangan mandiri dari rumah, berupa pipa PVC kecil atau selang fleksibel, yang diarahkan langsung ke aliran air.Limbah mandi, cuci, dan kakus dari rumah-rumah tersebut menyatu dengan aliran sungai yang sama-sama tercemar.Baca juga: Wajah Buram Sanitasi Kebon Melati, Limbah MCK Mengalir ke Kali KrukutSuryadi (43), warga RT 16 RW 14, telah tinggal di kawasan tersebut sejak 2008. Ia mengatakan kondisi sampah dan bau limbah sudah berlangsung lama.“Sudah lama sekali. Dari pertama saya tinggal di sini memang sudah begini,” ujar Suryadi.Ia mengakui sebagian sampah berasal dari aktivitas warga setempat, meski tak jarang ada kiriman dari wilayah hulu.“Tempat sampah ada, tapi jauh dari gang. Jalannya sempit, motor aja susah masuk. Enggak ada petugas angkut yang rutin sampai dalam,” katanya.Suryadi mengaku tidak nyaman hidup di lingkungan yang sempit, lembap, dan berbau.“Enggak nyaman. Baunya kadang kuat sekali, apalagi siang. Tapi mau bagaimana, rumah cuma ini,” ucapnya.Alasan ekonomi membuatnya bertahan.“Kalau ada rezeki pasti mau pindah. Tapi kontrakan mahal. Di sini rumah sendiri walau kecil,” katanya.Masalah air bersih juga kerap muncul, terutama saat musim kemarau.“Air sering kecil. Kadang beli galon. Air sumur bor baunya juga kadang enggak enak,” tuturnya.Baca juga: Atasi BAB Sembarangan, Pemkot Jakut Gencarkan Bangun MCK dan Septic Tank KomunalRohmah (35), warga RT 17 RW 14, mengaku kondisi sampah dan bau sudah menjadi bagian dari keseharian.“Iya, dari dulu sudah begini. Kami sudah terbiasa berdampingan dengan kondisi lingkungan seperti ini,” ujarnya.Namun, ia menyadari kondisi tersebut berisiko, terutama bagi anak-anak.“Anak-anak tetap main di pinggir kali. Kadang khawatir, tapi mau bagaimana lagi,” katanya.Menurut Rohmah, keterbatasan fasilitas menjadi alasan utama warga membuang sampah ke kali.“Tempat sampah jauh dan kecil. Kalau penuh, bingung mau buang ke mana. Kadang terpaksa buang ke kali, apalagi malam,” tuturnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

33. Bagaimana pola pengembangan paragraf ke-1, ke-2, dan ke-3 pada teks tersebutTentukan Benar (T) atau Salah (S) untuk setiap pernyataan berikut!34. Percakapan:Dini: Teks tersebut sangat menarik dan bisa menambah wawasan kita, terutama jika kita berencana untuk mengembangkan suatu bisnis kecil.Rio: Iya, pilihan katanya juga sangat mudah dimengerti sehingga orang yang awam terhadap istilah di bidang ekonomi juga mudah memahami isi informasi yang disajikan.Sena: Aku sependapat dengan kalian berdua, tetapi rasanya teks tersebut akan lebih baik jika disertai data pertumbuhan UKM dalam kurun waktu lima tahun terakhir atau pendapat ahli di bidang ekonomi.Berdasarkan percakapan tersebut, mengapa pendapat Sena sangat baik dalam menilai keakuratan informasi yang disajikan?Tentukan Setuju atau Tidak Setuju untuk setiap alasan berdasarkan isi teks!Baca juga: 30 Soal PTS PAI Kelas 3 Semester 1 Kurikulum Merdeka dan Kunci Jawaban STS Pendidikan Agama IslamTeks untuk soal nomor 35-37!Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus hoyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau. Tak satupun barang tertinggal di rumah lama. Begitu juga dengan sahabatku, loami harus berpisahBertemu dengannya setelah sekian lama, mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang dildapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya. Tak terasa mata saya mulai berkaca-kacaSaat malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Saya sering mendengar cerita mengasyikan anak-anak beramai-ramai berangkat ke sawah selepas iaya untuk mencari jangkrik. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak. Tidak ganti baju? tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat, Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasапуа sangat tidak elokSaya mengambil alih obor dari tangannya. Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya! Terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coldatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat untuk tetap bersama saya. (Kutipan Cerpen Seragam karya Aris Kurniawan Basuki dengan penyestialan)35. Kalimat:“Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau.”Penggunaan kata boyongan memperjelas peristiwa yang dialami tokoh “saya”, yaitu …Baca juga: 50 Soal UKPPPG 2025 Guru SD dan Kunci Jawaban Uji Kompetensi PPG sebagai Bahan Latihan36. Peristiwa apa yang mungkin akan terjadi kepada sahabatnya jika tokoh saya tidak ikut mencari jangkrik malam itu? Tentukan Tepat atau Tidak Tepat untuk setiap pertanyaan berikut!37. Kalimat mana saja dari dalam kutipan cerpen tersebut yang membuktikan karakter sahabat tokoh saya merupakan seorang yang setia kawan?Pilihlah jawaban yang benar!  Jawaban benar lebih dari satu. 

| 2026-02-02 12:16