JAKARTA, - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkap karakteristik geografis dan hidrologis yang membuat kawasan pantai barat Sumatera lebih rentan mengalami banjir bandang dengan tingkat kerusakan tinggi dibandingkan pantai timur.Kasubdit Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kemenhut Catur Basuki Setyawan mengatakan, perbedaan karakteristik lereng antara pantai barat dan pantai timur Sumatera menjadi faktor besar dalam membedakan jenis dan dampak banjir di kedua kawasan."Kita lihat dari lereng di pantai barat yang relatif terjal, kelas kemiringannya 15-17 persen dengan lerengnya yang cenderung pendek, sedangkan di pantai timur lerengnya relatif landai, dari pantai timur di Aceh hingga pantai timur di Sumatera Selatan relatif landai sehingga banjir tipikalnya adalah banjir tipikal yang relatif genangan," kata Catur dalam konferensi pers daring, Rabu .Baca juga: Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan Menurut Catur, pantai barat Sumatera memiliki lereng curam dengan kemiringan 15-17 persen serta topografi pegunungan Bukit Barisan yang berada sangat dekat dari bibir pantai, hanya sekitar 10–50 kilometer.Kondisi ini membuat air hujan mengalir cepat menuju pantai dalam waktu singkat.“Jika di pantai barat, banjir tipikalnya adalah aliran cepat, yang memiliki data kerusakan tinggi dan memiliki efek domino yang kuat terhadap kerusakan bangunan dan infrastruktur," ujar dia.Sungai-sungai di pantai barat juga cenderung berukuran pendek atau sedang, tetapi memiliki tingkat kepadatan yang tinggi.Baca juga: Korban Banjir Sumatera Bisa Urus Sertifikat Tanah GratisIni berarti volume aliran meningkat cepat dan potensi banjir bandang ikut tinggi.Karakteristik tersebut menyebabkan banjir di wilayah ini cenderung berupa flash flood atau banjir bandang, ditandai aliran deras, membawa lumpur, batu, hingga kayu.Sementara itu, di pantai timur Sumatera, mulai dari Aceh hingga Sumatera Selatan, memiliki lereng landai dengan morfologi sungai yang lebih panjang.Oleh karena itu, banjir yang terjadi umumnya berupa banjir genangan yang cenderung memiliki daya rusak lebih rendah meski durasi genangannya lebih lama.Baca juga: Aparat Temukan 3 Alat Berat Ditinggal Sebelum Banjir di Tapsel, Diduga untuk Buka Lahan“Di pantai timur, kejadian banjir cenderung berupa genangan yang sebenarnya memiliki tingkat kerusakan lebih rendah. Daya hancurnya lebih rendah daripada banjir di pantai barat, tetapi biasanya memiliki periode genangan yang lebih lama daripada banjir khas pantai barat," kata dia.Catur menegaskan bahwa perbedaan karakteristik ini menjelaskan mengapa kerusakan terbesar akibat banjir di tiga provinsi tersebut, Aceh, Sumut, dan Sumbar, banyak terjadi di kawasan pantai barat.“Jika kita perhatikan, biasanya dalam hal korban dan kerusakan, akan ada lebih banyak di pantai barat daripada di pantai timur karena pantai timur biasanya genangan," ungkap dia.Baca juga: Bareskrim: Temuan Kayu Gelondongan Banjir Tapsel Naik ke PenyidikanDiketahui, banjir bandang di tiga provinsi tersebut saat ini masih dalam penyelidikan lintas kementerian dan lembaga.
(prf/ega)
Pantai Barat Sumatera Lebih Rentan Banjir Bandang Dibanding Pantai Timur, Apa Penyebabnya?
2026-01-11 22:03:49
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 21:07
| 2026-01-11 20:16
| 2026-01-11 19:57










































