– Keringat mengalir di wajah Sunarso (70) pagi itu. Di atas petak kebun di Desa Lengkong, Kecamatan Rakit, Banjarnegara, Jawa Tengah, tangannya tekun membersihkan gulma di sekitar batang-batang singkong.Dengan langkah perlahan, ia berjalan di antara deretan tanaman yang sudah tumbuh menjadi semak muda dengan tinggi mencapai 80-120 cm. Setiap kali berjalan, paha dan pinggangnya sulit terhindar dari gesesakan daun yang tumbuh lebat dan berwarna hijau cerah.Baca juga: Mulai 1 Januari 2026, Petani Sudah Bisa Tebus Pupuk SubsidiPertengahan September lalu, ia memutuskan kembali menanam singkong meski harga panen sedang kurang bersahabat. Dari panen sekitar 1 ton, ia memperoleh tak lebih dari Rp 1 juta.Pilihan itu diambil dengan keyakinan baru. Ia mulai memanfaatkan pupuk urea dan NPK produksi PT Pupuk Indonesia (Persero) sesuai kebutuhan tanaman. Sunarso berharap pemupukan yang lebih tepat dapat meningkatkan kualitas sekaligus kuantitas panen.Ia bersyukur Kementerian Pertanian RI sudah memasukkan ubi kayu ke dalam daftar komoditas yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi tahun 2025.Dengan ini, ia bisa memperoleh pupuk dengan lebih leluasa memenuhi kebutuhan pupuk di lahan seperempat hektar miliknya.Sebelumnya, ia memanfaatkan pupuk non-subsidi sekadarnya, menyesuaikan dengan isi kantong. Kini, dengan harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi yang diturunkan, Sunarso hanya perlu membayar Rp 90.000 untuk 1 sak (50 kg) urea dan Rp 92.000 untuk sak NPK.Untuk mengakses pupuk subsidi, petani singkong hanya perlu lebih dulu mendaftarkan diri dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (e-RDKK). Caranya, ia menyerahkan data pribadi ke ketua kelompok tani yang selanjutnya menyampaikan data anggota ke Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) atau Balai Penyuluh Pertanian (BPP).“Saya kasih pupuknya sekitar 3 bulan setelah tanam. Mudah-mudahan terus tumbuh baik. Batangnya kokoh dan tegak, daunnya hijau, enggak ada yang menguning atau layu," ujar Sunarso saat diwawancarai Kompas.com, Sabtu . Menurutnya, pupuk subsidi kini mudah diperoleh di kios resmi terdekat. Stok tersedia dan petani hanya perlu membawa KTP saat bertransaksi.“Kemarin ambilnya aman, stok ada. Petani kecil tetap dilayani. Sekarang lebih lega, tidak perlu beli pupuk mahal (non-subsidi), pakai sebisanya beli, atau pinjam dulu ke petani lain. Mudah-mudahan panen kali ini lebih baik,” kata Sunarso./IRAWAN SAPTO ADHI Kondisi tanaman singkong milik Sudarso (70), di Desa Lengkong, Kecamatan Rakit, Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Selasa .Kondisi serupa dirasakan Daryono (60), petani singkong asal Desa Kutawuluh, Kecamatan Purwanegara. Ia menilai kebijakan pemerintah memasukkan ubi kayu sebagai penerima pupuk subsidi sangat membantu petani.Menurut Daryono, pupuk merupakan sumber nutrisi utama bagi tanaman. Tanpa pemupukan memadai, singkong rentan kekurangan unsur hara. Dampaknya, pertumbuhan terhambat, hasil panen menurun, dan ujung-ujungnya petani bisa merugi.“Kebijakan subsidi pupuk untuk singkong, apalagi harganya diturunkan, jelas menguntungkan petani. Semoga bisa berlanjut,” ujarnya.Baca juga: Meremajakan Pabrik Tua Pupuk Kita...Selain meringankan biaya produksi, ketersediaan pupuk subsidi hadir di saat yang dinilai tepat. Daryono mengatakan, belakangan muncul sumber permintaan baru untuk singkong, yakni dari pelaku usaha dan kelompok tani yang mengembangkan tepung mocaf di Banjarnegara.Mocaf, singkatan dari modified cassava flour, merupakan tepung ubi kayu atau singkong yang diolah melalui proses fermentasi. Dengan begitu, produk ini bisa dipakai serupa tepung terigu sebagai bahan baku roti, mi, gorengan, dan berbagai olahan pangan lain.Sebelumnya, petani singkong lebih sering pasrah menyerahkan hasil panen kepada tengkulak dengan harga rendah. Kondisi ini terjadi karena sejumlah pabrik aci di Banjarnegara dan Purbalingga tutup.Pabrik-pabrik yang dahulu menjadi penopang penyerapan hasil panen, seperti di Badamita, Ketawis, Kalipelus, hingga Gumiwang, kini tak lagi beroperasi. Akibatnya, pilihan pasar bagi petani semakin terbatas.“Sekarang ada harapan lagi. Satu per satu tempat produksi mocaf mulai muncul dan menyerap singkong petani lokal,” terangnya Optimisme serupa disampaikan Dedi Gunawan, petani singkong di Desa Petir, Purwanegara, Dedi Gunawan (53). Menurutnya, banyak warga di desanya telah membudidayakan singkong sejak lama./IRAWAN SAPTO ADHI Petani singkong di Desa Petir, Purwanegara, Dedi Gunawan (53) (kanan) berfoto di sekitar lahan pertanian ubi kayu yang menjamur di desanya, Jumat .Berbatasan langsung dengan Kabupaten Kebumen, Desa Petir memang memiliki hamparan lahan singkong yang luas. Karakter tanahnya yang didominasi lahan kering dan tadah hujan membuat wilayah ini cocok untuk pertumbuhan singkong.Tak heran jika Desa Petir menjadi salah satu penopang utama Purwanegara, kecamatan yang selama ini tercatat sebagai penghasil singkong terbesar di Banjarnegara.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2021 dan 2022 produksi ubi kayu di Purwanegara bahkan menembus lebih dari 70.000 ton, atau lebih dari separuh total produksi Kabupaten Banjarnegara.Baca juga: Pemkot Bandung Manfaatkan Pupuk Kompos Hasil Pengolahan Sampah di Pasar Induk GedebageBagi Dedi, ketersediaan pupuk bukan sekadar sarana meningkatkan hasil panen, tetapi juga penopang semangat para petani. Akses pupuk yang mudah dan terjangkau membuat petani lebih yakin untuk terus mengolah lahan."Kalau pupuk tersedia dengan baik, kami bisa lebih tenang. Tanaman tidak kekurangan nutrisi. Dengan dukungan yang tepat, petani akan bertahan mendukung swasembada pangan,” ujarnya.Ia juga telah merasakan pembelian pupuk subsidi urea sebanyak 8 kwintal untuk tanaman singkongnya. Harga yang ia dapatkan pada awal Desember lalu sudah yang diturunkan Rp 1.800 per kg atau Rp 90.000 per sak.“Ini termasuk salah satu kebijakan pemerintah yang bisa dinikmati langsung sama petani,” ujar Dedi.Ia lalu menggambarkan praktik pemupukan singkong yang ia terapkan. Pupuk urea diberikan dua kali, yakni saat tanaman berusia sekitar 1,5–3 bulan setelah tanam, kemudian dilanjutkan pada umur 6–7 bulan. Menurutnya, pola pemupukan yang tepat berperan penting dalam menentukan kualitas dan produktivitas singkong.Dedi menilai, singkong kini kalah pamor dibanding bahan pangan pokok lain seperti beras dan terigu. Citra singkong sebagai “makanan kelas dua” atau identik dengan pangan orang miskin membuat umbi bernama latin Manihot ini semakin tersisih. Ubi kayu padahal pernah berjaya sebagai makanan pokok.Ia meyakini, ketersediaan pupuk yang memadai dapat menjadi pintu masuk bagi singkong untuk naik kelas. Dengan pertumbuhan yang lebih optimal, singkong tidak hanya layak dikonsumsi, tetapi juga memenuhi standar sebagai bahan baku produk bernilai tambah, seperti tepung mocaf.Di Desa Petir sendiri, inisiatif pengolahan singkong menjadi mocaf telah dijalankan Kelompok Tani Sumber Rejeki di RT 003/RW 003. Baca juga: Tata Kelola Pupuk Subsidi Dirombak, Arahkan ke Penguatan IndustriKelompok ini dikelola Sugito (45), petani singkong yang mulai memproduksi mocaf pada awal 2025 setelah mendapat pendampingan dari Rumah Mocaf Indonesia.Sejak awal, Sugito berkomitmen menyerap singkong petani sekitar dengan harga lebih tinggi dari pasaran.
(prf/ega)
Melantarkan Singkong Naik Kelas...
2026-01-12 04:39:06
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:37
| 2026-01-12 03:44
| 2026-01-12 03:05










































