Solar di Wotu Langka Bikin Nelayan Tunda Melaut, Pertamina Tambah Pasokan 16 KL Per Hari

2026-02-03 21:57:59
Solar di Wotu Langka Bikin Nelayan Tunda Melaut, Pertamina Tambah Pasokan 16 KL Per Hari
LUWU TIMUR, – Sejumlah nelayan di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan dalam beberapa hari terakhir mengantre di SPBU untuk mendapatkan jatah solar. Pasokan bahan bakar bersubsidi di wilayah tersebut dilaporkan terbatas sehingga sebagian nelayan terpaksa menunda melaut.“Sudah dua hari kami tidak bisa melaut karena solar cepat habis di SPBU. Biasanya kami isi pagi-pagi, tapi belakangan antreannya panjang dan kadang stoknya belum datang,” kata Rahman, nelayan asal Desa Lampenai, saat ditemui di pelabuhan Wotu, Sabtu .Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya pasokan ikan di pasar tradisional Wotu.Area Manager Communication, Relation, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, T. Muhammad Rum, mengatakan kebutuhan solar nelayan di Wotu meningkat seiring besarnya volume rekomendasi pengisian BBM pada SPBU 7492901 Wotu.Baca juga: Stok Solar Menipis di Jember, Hiswana Migas Imbau Warga Tak Menimbun“Berdasarkan hasil koordinasi dengan DKP dan Disperindag Luwu Timur, diketahui volume rekomendasi pengisian BBM untuk nelayan cukup besar. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan solar di wilayah tersebut,” kata Rum, Minggu .Untuk menjaga ketersediaan yang lebih stabil, Pertamina akan menambah suplai solar ke SPBU Wotu menjadi 16 kiloliter per hari, dengan tetap memperhatikan kuota yang ditetapkan pemerintah.“Selain itu, Pertamina juga melakukan penyesuaian jadwal pengisian BBM bagi pengguna dengan surat rekomendasi agar pelayanan di SPBU tetap berjalan lancar untuk seluruh konsumen, termasuk kendaraan umum,” ucapnya.Rum menambahkan, nelayan juga dapat melakukan pengisian di SPBUN 7892902 Bahari Indah yang lokasinya tidak jauh dari SPBU Wotu.Pertamina menegaskan pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat terkait untuk memastikan distribusi BBM bersubsidi berjalan sesuai ketentuan.“Pertamina bergerak cepat menyesuaikan suplai solar agar kebutuhan energi nelayan kembali terpenuhi,” ujar Rum.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-03 21:47