- Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia DKI Jakarta (Siwo PWI Jaya) bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DKI Jakarta menggelar diskusi bertajuk "Evaluasi Popnas XVII 2025: Strategi Pembinaan Atlet Muda DKI Jakarta Secara Menyeluruh" di Gedung KONI DKI Jakarta, Tanah Abang, Kamis .Kegiatan yang dimulai pukul 13.15 WIB ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Ketua Umum KONI DKI Jakarta, Hidayat Humaid, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta, Andri Yansyah, Sekretaris Umum Pengprov Wushu DKI Jakarta, Herman Wijaya, serta Kepala Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP) DKI Jakarta, Rusdiyanto.Diskusi ini diinisiasi untuk memperkuat sistem pembinaan atlet muda Ibu Kota, terutama setelah DKI Jakarta menorehkan hasil apik di ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XVII, Bela Diri, dan Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Pappernas) XI. "Kami berharap diskusi ini menjadi momentum untuk melahirkan strategi pembinaan yang berkelanjutan agar atlet muda DKI tak hanya berjaya di level daerah, tetapi juga berprestasi di tingkat nasional dan internasional," ujar Ketua Panitia sekaligus Ketua Siwo Jaya, Nonnie Rering, dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat .Baca juga: Menpora Erick Thohir Ultimatum 4 Cabor, Dorong KOI dan KONI Ambil Peran Selesaikan DualismeSenada dengan itu, Ketua PWI Jaya Kesit B. Handoyo menegaskan pentingnya menjaga loyalitas dan pembinaan atlet muda agar potensi mereka tidak diambil daerah lain. "Atlet muda DKI yang berprestasi jangan sampai 'diculik' atau dimanfaatkan oleh daerah lain," pesannya.Dalam pemaparannya, Ketua Umum KONI DKI Jakarta Hidayat Humaid menyoroti pentingnya kesinambungan pembinaan olahraga dari tingkat pelajar hingga ke jenjang prestasi internasional.Ia memperkenalkan konsep Piramida Pembinaan Olahraga Prestasi yang melibatkan dua lembaga utama, yakni Dispora DKI Jakarta (untuk pelajar dan mahasiswa) serta KONI DKI Jakarta (untuk tingkat prestasi).Menurutnya, pembinaan dimulai dari tahap pemasalan, memperkenalkan olahraga secara luas kepada anak-anak dan remaja. Tahap ini menjadi fondasi utama agar minat dan partisipasi tumbuh secara alami. Dari situ, proses berlanjut ke pembibitan, tempat munculnya calon atlet potensial yang siap naik ke jenjang prestasi. "Olahraga itu mendewakan proses. Kalau prosesnya bagus, hasilnya pasti bagus," ucap Hidayat."Namun, kita harus mencari solusi agar pembinaan tidak terputus ketika atlet lulus dari PPOP dan masuk ke perguruan tinggi. Justru di usia mahasiswa, performa atlet biasanya mencapai puncaknya," tuturnya.Baca juga: Erick Thohir Buat Terobosan sebagai Menpora, KONI Jatim Beri ApresiasiSementara itu, Andri Yansyah, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta, menekankan pentingnya ketegasan dalam manajemen olahraga daerah. Ia menyebut evaluasi Popnas menjadi tolok ukur bagi pembenahan menyeluruh. "Olahraga harus apa adanya. Kalau pengurus atau pelatih tidak berkinerja baik, harus berani diganti. Cabang olahraga yang tidak berprestasi wajib dievaluasi dan diperbaiki," ujarnya.Kepala PPOP DKI Jakarta Rusdiyanto memaparkan skema pembinaan atlet muda yang telah dijalankan pihaknya.Sistem tersebut mencakup tahapan mulai dari identifikasi dan rekrutmen, program latihan terencana, pembinaan karakter dan mental juara, dukungan akademik dan sosial, hingga evaluasi berkala melalui sistem promosi dan degradasi.
(prf/ega)
Evaluasi Popnas 2025, Siwo PWI Jaya dan KONI DKI Bahas Strategi Pembinaan Atlet Muda
2026-01-12 04:19:35
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:21
| 2026-01-12 03:52
| 2026-01-12 03:48
| 2026-01-12 03:37
| 2026-01-12 03:20










































