Gelaran Kampanye Ayo Cegah Stunting di Padang Pariaman Sumbar, Perkuat Komitmen

2026-01-14 11:07:50
Gelaran Kampanye Ayo Cegah Stunting di Padang Pariaman Sumbar, Perkuat Komitmen
Jakarta - Gelaran kampanye 'Ayo Cegah Stunting' atau ACS dilakukan di Nagari Guguak, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), pada Rabu 17 Desember 2025 oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui payung Bakti BCA."Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Bakti BCA untuk memperkuat pencegahan stunting berbasis masyarakat," ujar EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn melalui keterangan tertulis, Kamis .Dia menjelaskan, kampanye ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam mendorong perubahan perilaku gizi dan kesehatan yang berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas.Advertisement"Program ACS mulai dijalankan sejak tahun 2024 melalui tahapan pemetaan kondisi dan potensi wilayah, sebagai dasar perancangan intervensi berbasis masyarakat," terang Hera.Kemudian, lanjut dia, program ini difokuskan pada penguatan fondasi melalui peningkatan kapasitas masyarakat, keterlibatan local champion, serta berbagai kegiatan edukasi yang mendorong perubahan perilaku gizi dan kesehatan di tingkat keluarga dan komunitas."Pada tahun 2025, Program ACS dilanjutkan dengan penguatan yang lebih komprehensif, termasuk peningkatan kapasitas kader, pemanfaatan sistem digital untuk mendukung pemantauan program, serta penguatan peran remaja sebagai agen penyebaran pesan positif terkait gizi dan kesehatan," papar Hera.Menurut dia, selain di Nagari Guguak, kampanye ACS juga dilaksanakan di Desa Taman Indah, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat."Pencegahan stunting merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan perubahan perilaku gizi dan kesehatan di tingkat keluarga dan komunitas," ucap Hera. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-14 10:40