Nestapa Warga Perbatasan RI di Krayan, Bawa Pulang Jenazah Harus Tarik Mobil dari Jebakan Lumpur

2026-01-12 06:44:54
Nestapa Warga Perbatasan RI di Krayan, Bawa Pulang Jenazah Harus Tarik Mobil dari Jebakan Lumpur
NUNUKAN, – Sebuah video puluhan warga perbatasan RI–Malaysia di dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, bergotong royong menarik dan mengeluarkan mobil gardan ganda dari jebakan lumpur, menjadi pembahasan panjang di media sosial Kaltara, Senin .Pasalnya, di dalam mobil putih yang ditarik dengan tambang oleh kelompok masyarakat tersebut, terdapat jenazah warga Krayan Timur, yang dipulangkan pasca berobat di Kota Tarakan."Untuk memulangkan jenazah, keluarga harus carter pesawat MAF Rp 50 juta. Kita jemput jenazah dari bandara Long Bawan, dan harus memastikan mobil bisa mengantar jenazah sampai tujuan," ujar Martinus Baru, warga Krayan Timur yang mengunggah video dimaksud, dihubungi Selasa .Baca juga: Perjuangan PPPK Paruh Waktu dari Pedalaman Krayan, Habiskan Rp 3 Juta Demi Selembar SKCKJalan yang dilewati untuk mengantar jenazah salah satu warga Long Umung, Krayan Timur tersebut, merupakan domain Pemerintah Pusat.Menurut Martinus yang merupakan warga asli Krayan Timur, jalan tersebut belum pernah diaspal sehingga kondisinya sulit dilewati, apalagi saat musim penghujan.Dalam rekaman video yang disebarkan Martinus, puluhan warga Krayan berbagi peran untuk memastikan mobil pengangkut jenazah bisa lewat.Ada yang menyusun sejumlah papan kayu layaknya rel kereta agar ban mobil tak tenggelam di lumpur.Baca juga: Akses Jalan Putus akibat Longsor, Warga Krayan Meniti TebingSebagian menarik mobil tersebut menggunakan tambang karena meski ban mobil sudah melintasi papan kayu, terkadang tetap saja meleset dan masuk jebakan lumpur."Niat saya mengekspose kondisi duka tersebut, agar Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat bisa menyaksikan langsung bagaimana warga Krayan masih kesulitan akses jalan sejak Indonesia merdeka," ujarnya lagi.Jika jalan normal, tutur Martinus, maka jenazah bisa sampai di rumah duka hanya dalam waktu sekitar satu jam saja.Namun melihat kondisi jalan yang rusak dan menjelma kubangan lumpur, waktu tempuh tentu jauh lebih lama."Kalau bicara nasionalisme, warga Krayan kurang apa. Kami masih Indonesia meski kondisi jalan kami seperti ini. Pangan kami lebih banyak dari sebelah (Malaysia) ketimbang (produk) Indonesia. Tak bisakah pejabat di pusat sana melihat kondisi kami disini," sesalnya.Dataran tinggi Krayan sampai hari ini hanya bisa dijangkau dengan pesawat terbang perintis dari Kabupaten Kota Nunukan. Krayan menjadi wilayah terisolir yang berbatasan darat langsung dengan Malaysia.Mayoritas kebutuhan pokok dan penting di wilayah pegunungan ini dipasok dari Malaysia."Warga Krayan itu dari dulu mintanya mohon diperbaiki akses jalan kami. Kami ini bagian dari Indonesia, berhak menikmati janji membangun dari pinggiran yang menjadi slogan Pemerintah Pusat. Tidak muluk muluk mau kami tuh," tegasnya.


(prf/ega)