Tambang di Kaki Gunung Slamet Diprotes Warga, Gubernur Luthfi: Kantongi Izin, Tak Melanggar...

2026-01-12 15:10:24
Tambang di Kaki Gunung Slamet Diprotes Warga, Gubernur Luthfi: Kantongi Izin, Tak Melanggar...
SEMARANG, – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menanggapi penolakan masyarakat terhadap kegiatan penambangan di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.Ia menegaskan bahwa aktivitas penambangan di wilayah tersebut telah mendapatkan izin, sehingga tidak perlu ditertibkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.“Prinsip selama itu tidak melanggar terkait dengan mineral batuan kita (tidak masalah), sekarang kalau melanggar ya kita tertibkan,” ujar Luthfi saat ditemui di Stadion Jatidiri Semarang pada Kamis .Baca juga: Tambang di Kaki Gunung Slamet Diprotes Warga, Dinas ESDM Jateng Tak Bisa Langsung MenutupSelain penambangan pasir dan batu di Desa Gandatapa, perhatian publik juga tertuju pada tambang batu granit di Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng.Luthfi menyatakan bahwa Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menutup sementara penambangan batu granit yang berada di kaki Gunung Slamet hingga pengelola memperbaiki kaidah penambangannya.“Tetapi itu sudah ditindaklanjuti oleh Pemprov kita dan sudah dihentikan. Kan banyak yang viral. Makanya saya minta tolong kalau viral itu cek re-cek final cek terkait dengan kebenaran suatu berita. Jangan sampai nanti saya mengucapkan terima kasih kalau ada beberapa yang memviralkan (tanpa re-check) dan kita akan menindaklanjuti (temuan) dengan benar,” tegasnya.KOMPAS.COM/TANGKAPAN LAYAR AKUN INSTAGRAM SAHABAT RIMBA INDONESIA Tangkapan layar kegiatan penambangan pasir dan batu di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.Sebelumnya, Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, mengeluhkan persoalan dua titik tambang di wilayahnya—Baseh, Kedungbanteng dan Tapa, Baturaden—yang terus diprotes warga meski sebagian sudah berizin.Keluhan tersebut disampaikan langsung kepada Gubernur Luthfi dalam Rapat Koordinasi Persiapan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Kota Semarang pada Senin .Sadewo mengungkapkan bahwa penambangan batu granit di Baseh, Kedungbanteng masih menjadi sorotan publik.Ia mengeklaim telah berkoordinasi dengan pegiat lingkungan dan Dinas ESDM Provinsi untuk menghentikan sementara aktivitas tambang.“Kami dan ESDM Provinsi sudah membuat memasang banner di situ ‘ditutup sementara’, jujur atas usulan saya. Karena kalau langsung ditutup, pasti penambangnya akan lari,” tutur Sadewo.Ia juga menyoroti penambangan pasir dan tanah di Gandatapa yang meskipun sudah mengantongi izin, tetap ditolak oleh warga.KOMPAS.COM/DOK PEMKAB Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono saat acara Forum Investasi Banyumas 2025, Selasa .“Penambangan pasir dan tanah di daerah Tapa, ini juga bermasalah Pak. Kalau perizinan ada semua, bermasalah dengan masyarakat, didemo juga,” katanya.Sadewo mengaku kesulitan menghadapi protes warga karena izin galian C ditangani provinsi melalui ESDM.“Ini yang pusing kami Pak Gub karena izin tambang galian C itu ada di ESDM Provinsi,” ujarnya.Isu ini semakin mencuat setelah sebuah video yang menampilkan aktivitas penambangan di Desa Gandatapa viral di media sosial.Baca juga: Video Tambang di Lereng Gunung Slamet Viral, ESDM: Berizin di Tanah Milik WargaDalam video berdurasi 20 detik tersebut, terlihat galian tambang yang cukup dalam di area yang disebut berada di selatan lereng Gunung Slamet.Salah satu unggahan menyertakan tulisan, "Ini bukan di luar Pulau Jawa, ini ada di Jawa Tengah! Tepatnya di selatan lereng Gunung Slamet, di Desa Gandatapa, Sumbang, Banyumas, tanah digali terus-menerus meninggalkan sebuah luka untuk alam".“MARI KITA SERUKAN! Tolak semua tambang di kawasan Lereng Gunung Slamet! #SaveSlamet,” lanjut keterangan dalam unggahan tersebut.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 14:03