- Selepas bencana banjir dan longsor meluluhlantakkan sebagian area di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada akhir November lalu, banyak relawan yang merangsek masuk daerah bencana demi mengulurkan tangan.Tak peduli akses masih terputus, tak peduli kawasan bencana masih gelap gulita karena aliran listrik padam, relawan terus datang silih berganti. Salah satunya adalah Fahmi Yunus, dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, yang bertatus non-aktif karena baru saja menyelesaikan studi PhD dari University of Sheffield, UK.Bersama sang paman, Husaini Ismail, Fahmi memutuskan menembus Pidie dan Bireuen dengan mengendarai mobil double cabin pribadi.Kepada Kompas.com, Fahmi menceritakan bagaimana sulitnya menembus lokasi bencana, dan betapa para pengungsi dengan mata berbinar menyambut semua uluran bantuan, termasuk dua plastik jambu air.Baca juga: Warga Aceh Tamiang Minum Air Genangan Hujan, Pengungsi Bireuen Bertahan Tanpa ObatTak lama selepas bencana menerjang, 26 November 2026, Fahmi berinisiatif menggalang dana bantuan untuk para korban."Intinya yang kami pikirkan waktu itu, berapa pun dana terkumpul kita harus berani membawa bahan makanan semampunya. Tanpa membuat open donation secara khusus. Cuma dengan kita bilang akan ke lokasi bencana, lantas ada saja donasi yang masuk," paparnya, Senin malam via sambungan telepon.Sekitar 3 hari, terkumpulah donasi kerabat dan teman dari luar Aceh, seperti dari Medan dan Yogyakarta, serta dari luar negeri, yaitu Inggris."Kalau tidak salah terkumpul sekitar 20 jutaan, begitu ada uang langsung kami belikan barang seperti beras, susu anak, minyak goreng, gula, pembalut wanita, mi instan, biskuit, dan juga buah-buahan," papar Fahmi.Selain dibelikan barang kebutuhan sehari-hari, Fahmi juga menyisakan uang tunai untuk diberikan ke dapur umum pengungsian.Baca juga: Kondisi RS Aceh Pascabanjir, Pasien Dirawat di Lantai, Pelayanan Cuci Darah LumpuhIstimewa/Dok Pribadi Fahmi Yunus Suasana di sekitar jembatan Kutablang, Bireuen. Hancurnya jembatan itu memutus jalur darat Bireuen- Lhokseumawe/Aceh Utara. Setelah semua barang dikemas, Fahmi dan Husain pun mulai melajukan mobilnya, tepat pada Senin pagi. Tujuan pertama, adalah Pidie Jaya"Awalnya kami agak pesimis apakah bisa menembus daerah bencana banjir dan longsor di Pidie Jaya dan Bireuen. Karena info yang berseliweran adalah jalan ke beberapa daerah putus total dan terisolir. Alhamdulillah, ada saja kemudahan sehingga kami bisa ke "batas akhir" Bireuen, Kutablang," kisahnya.Menurut Fahmi, tepat di hari yang sama, ia berhasil memakirkan mobilnya di Pidie. Di sana, ia sempat melakukan koordinasi dengan relawan lain, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bireuen."Sampainya menjelang malam, di hari yang sama," ujarnya. Menurut Fahmi, di kecamatan ini semua transportasi darat terhenti. Jika ingin melanjutkan perjalanan, harus turun dulu ke pinggir sungai, kemudian menyambung perjalanan menggunakan boat kecil.
(prf/ega)
Cerita Relawan yang Redakan Lapar di Bireuen dan Pidie: Dua Plastik Jambu Air Itu Langsung Habis
2026-01-12 03:14:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:51
| 2026-01-12 03:48
| 2026-01-12 03:37
| 2026-01-12 02:17
| 2026-01-12 01:44










































