Ketika Kelas Tak Lagi Mengajar

2026-01-12 16:25:49
Ketika Kelas Tak Lagi Mengajar
KELAS seharusnya menjadi ruang tempat makna tumbuh-tempat nalar diasah, rasa ingin tahu dipelihara, dan pengetahuan diberi konteks kehidupan.Namun, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Nasional 2025 menghadirkan kegelisahan yang sulit diabaikan.Rata-rata Matematika yang berhenti di angka 36,10 dan Bahasa Inggris di 24,93 bukan sekadar rapor akademik, melainkan sinyal bahwa ada sesuatu yang keliru dalam cara kita mengelola pendidikan.Di tengah berbagai agenda reformasi, ruang kelas justru makin jauh dari fungsi dasarnya sebagai ruang belajar yang bermakna.Angka-angka tersebut tidak lahir di ruang hampa. Ia merupakan akumulasi dari persoalan struktural yang telah lama mengendap: kurikulum yang gemar berganti wajah, guru yang kian terbelenggu administrasi, serta kebijakan evaluasi yang inkonsisten hingga melahirkan sikap apatis di kalangan siswa.Salah satu penyakit kronis pendidikan Indonesia adalah obsesi pada perubahan nomenklatur kurikulum.Baca juga: Martabat Dosen dan Ujian Negara HukumHampir setiap pergantian kepemimpinan di kementerian diikuti perubahan istilah dari Kompetensi Inti ke Capaian Pembelajaran, dari RPP ke Modul Ajar. Namun, perubahan tersebut lebih sering menyentuh aspek administratif ketimbang substansi pedagogis.Fenomena ini dikenal sebagai innovation fatigue, kelelahan akibat inovasi yang terlalu sering dan dangkal.Guru dan siswa dipaksa beradaptasi dengan format baru sebelum sempat mendalami yang lama. Kurikulum berganti baju di tengah badai, tetapi jantung pembelajaran tetap rapuh.Dalam perspektif konstruktivisme, sebagaimana ditegaskan Lev Vygotsky, belajar hanya bermakna jika terjadi interaksi sosial yang mendorong penalaran dalam Zone of Proximal Development.Ketika kurikulum lebih sibuk mengatur format dan pelaporan ketimbang memfasilitasi dialog, eksplorasi, dan bimbingan konseptual, proses belajar kehilangan daya hidupnya.Kurikulum yang terus berubah membawa dampak sistemik pada guru. Konsep teacher agency, otonomi guru untuk menerjemahkan kurikulum sesuai konteks kelas semakin menyempit akibat beban administrasi digital yang menumpuk.Berbagai laporan dan survei internasional menunjukkan bahwa beban administratif guru di Indonesia tergolong tinggi.Survei OECD melalui TALIS (Teaching and Learning International Survey) mencatat bahwa guru di Indonesia menghabiskan waktu signifikan untuk tugas non-pengajaran, termasuk pelaporan administratif, dibandingkan dengan banyak negara lain.Temuan ini sejalan dengan berbagai studi dan laporan lapangan di dalam negeri yang menunjukkan bahwa porsi waktu guru untuk urusan administratif dapat mencapai hampir separuh jam kerjanya.


(prf/ega)