Puncak Hujan Meteor Orionid 28 November, Jam Berapa? Cek Infonya!

2026-02-02 03:12:51
Puncak Hujan Meteor Orionid 28 November, Jam Berapa? Cek Infonya!
Hujan meteor Orionid kembali menjadi salah satu fenomena astronomi yang dinantikan pada akhir November. Informasi mengenai waktu puncak dan cara terbaik untuk mengamatinya penting untuk disimak agar tidak terlewat.Berikut penjelasan mengenai puncak hujan meteor Orionid pada tanggal 28 November 2025, lengkap dengan tips untuk mengamatinya.Menurut laman astronomi In The Sky, hujan meteor Orionid akan mencapai fase maksimum pada malam tanggal 28 November 2025. Fenomena ini diperkirakan berada pada titik puncak saat rasi Orion berada cukup tinggi di langit sehingga meteor lebih mudah terlihat.Fase maksimum terjadi ketika aktivitas meteor mencapai tingkat tertinggi dalam satu malam pengamatan. Pada momentum ini, pengamat berpeluang melihat lebih banyak meteor yang melintas dengan kecepatan tinggi. Kondisi langit cerah menjadi faktor pendukung agar jumlah meteor yang tampak lebih optimal.Hujan meteor Orionid berasal dari sisa debu komet Halley yang tertinggal di jalur orbitnya. Ketika Bumi melintasi alur partikel tersebut, gesekan dengan atmosfer menghasilkan kilatan cahaya yang tampak seperti meteor. Peristiwa ini terjadi setiap tahun dan memiliki pola yang cukup konsisten.Fenomena Orionid dikenal memiliki meteor yang cepat dan terang. Dalam informasi yang dijelaskan pada sumber tersebut, meteor Orionid sering memperlihatkan jejak cahaya yang memanjang beberapa detik. Sumber radian peristiwa ini berasal dari area di dekat bintang Betelgeuse di rasi Orion yang muncul di langit bagian timur saat malam menjelang dini hari.Agar pengalaman mengamati lebih optimal, berikut beberapa tips yang dapat diikuti saat puncak hujan meteor.Lihat juga Video: Hujan Meteor Orionid, Waktu Terbaiknya 22 Oktober 2023[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 02:42