JAKARTA, - Menjalani peran sebagai seorang generasi sandwich tentu bukan perkara mudah bagi banyak orang.Pasalnya, seorang generasi sandwich tidak hanya berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, tetapi juga kedua orangtuanya atau keluarga kecilnya.Kondisi semakin kompleks apabila ia juga harus menopang kebutuhan saudara kandung, yakni adik, kakak, bahkan keponakan.Baca juga: Jeritan Hati Generasi Sandwich: Jika Semua Bersandar Padaku, Aku Harus Bersandar ke Mana?Kondisi itulah yang dialami salah satu warga Manggarai, Jakarta Selatan, Desiana (31), yang harus menanggung peran sebagai generasi sandwich sejak 2013 atau setelah ia lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)."Harus menanggung orangtua, adik, dan adik sepupu," ujar Desiana ketika diwawancarai Kompas.com di kediamannya di Manggarai, Rabu .Desi bercerita dirinya harus menjalani peran sebagai generasi sandwich karena kedua orangtuanya tak lagi bekerja. Saat itu, adik perempuannya juga masih bersekolah dan membutuhkan biaya.Tidak hanya menanggung biaya hidup orangtua dan adiknya, Desi juga sempat terbebani untuk melunasi utang orangtuanya yang mencapai puluhan juta rupiah ketika ia baru diterima bekerja di sebuah restoran 12 tahun lalu.Utang tersebut berhasil ia lunasi dengan mencicil selama lima tahun. Seiring berjalannya waktu, tanggung jawab Desi sebagai generasi sandwich bertambah.Anak sulung tersebut juga harus menanggung biaya pendidikan adik sepupunya yang kini duduk di bangku SMK, karena orangtuanya sudah tidak mampu membiayai.Peran sebagai generasi sandwich terus dijalani Desi hingga kini meski ia telah menikah dan memiliki seorang anak berusia enam bulan.Beruntung, adik kandungnya kini sudah lulus sekolah dan bekerja sehingga tidak lagi menjadi tanggungan Desi.Kini, Desi dan adik perempuannya saling berbagi beban untuk membiayai kedua orangtua dan adik sepupunyaSetiap bulan, dengan gaji UMR Jakarta sekitar Rp 5,3 juta, Desi harus memutar otak untuk membiayai orangtua, adik sepupu, dan keluarga kecilnya.Baca juga: Dilema Pengamen Ondel-ondel: Antara Jaga Marwah Budaya atau Bertahan Hidup"Pokoknya kasih ibu Rp 1,5 juta, buat bayar utang pokoknya enggak boleh lebih dari Rp 1 juta. Nah, Rp 1 juta lagi nabung. Sisanya baru buat saya," ucap dia.Sisa gajinya itu, Desi gunakan untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga berupa makan, biaya kebutuhan anak, hingga membayar kontrakan.Memiliki gaji pas-pasan dan banyak tanggungan membuat perempuan itu sering menahan keinginan pribadinya."Sering banget nahan keinginan pribadi. Contohnya, kayak misalnya buat beli baju yang lagi ngetrend sekarang, malah buat bayar utang," jelas Desi.Sama seperti Desi, pria bernama Eki Wiratama Putra (25) juga mengaku sering menahan keinginannya karena menjadi generasi sandwich yang harus menghidupi ibunya yang single parent, adik perempuan, serta istrinya."Sering menahan keinginan pribadi, tapi yang mencolok ada dua, yaitu pertama saya pengen banget beli motor sport tapi saya tidak egois akhirnya saya tahan demi membantu perekonomian orangtua saya," kata Eki, Rabu.
(prf/ega)
Jatuh Bangun Generasi Sandwich: Menahan Keinginan dan Mimpi demi Keluarga
2026-01-12 04:36:06
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:42
| 2026-01-12 03:34
| 2026-01-12 03:16
| 2026-01-12 02:50
| 2026-01-12 02:47










































