Hotel di Solo Terancam Sepi Jika Sekolah Enam Hari Diterapkan

2026-01-12 05:08:38
Hotel di Solo Terancam Sepi Jika Sekolah Enam Hari Diterapkan
SOLO, - Sektor pariwisata dan perhotelan di Kota Solo dinilai bakal semakin tertekan seiring munculnya wacana penerapan kembali sistem enam hari sekolah untuk jenjang SMA/SMK di Jawa Tengah.Humas Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo, Wening Damayanti, menuturkan kebijakan tersebut berpotensi memberi dampak langsung pada dua aspek utama, yakni tingkat okupansi hotel dan durasi menginap (length of stay).Menurut Wening, hotel di Solo tidak hanya bergantung pada pasar MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), tetapi juga pada kunjungan wisatawan, terutama keluarga yang memanfaatkan akhir pekan untuk berlibur.Baca juga: Tujuh Sekolah di Balikpapan Masuk Kandidat Sekolah Rujukan Google, Ini SyaratnyaSituasi ini biasanya semakin menguntungkan apabila akhir pekan bertepatan dengan libur nasional sehingga tercipta momentum long weekend."Jika nantinya anak-anak tetap masuk sekolah pada hari Sabtu, otomatis akan berdampak pada okupansi hotel, khususnya pasar keluarga yang sering melakukan perjalanan dan menginap di luar kota, termasuk ke Kota Solo," ujarnya, Rabu .Ia menambahkan, sektor perhotelan sebenarnya sudah terguncang oleh pemangkasan anggaran pemerintah yang mulai berlaku tahun ini dan diperkirakan berlanjut tahun depan.Kondisi tersebut membuat tingkat okupansi hotel menurun signifikan."Karena pasar MICE tidak lagi sekuat dulu, kami mulai beralih ke pasar keluarga, liburan, travel gathering, dan kegiatan sosial lainnya. Namun, dengan wacana sekolah enam hari, pasar keluarga justru berpotensi kembali melemah karena waktu liburnya hanya tinggal satu hari," jelasnya.Wening menuturkan, tanpa adanya long weekend, peluang peningkatan okupansi akan sepenuhnya bergantung pada libur nasional.Jika libur tersebut jatuh pada hari kerja, hotel kehilangan momentum menarik tamu keluarga."Setelah pemangkasan anggaran pemerintah, kami sudah cukup terpukul. Jika ditambah kebijakan ini, beban kami akan semakin berat. Kami berharap ada solusi atau alternatif kebijakan yang tidak memperberat industri pariwisata," katanya.Terkait prediksi penurunan okupansi, PHRI Solo belum dapat menyampaikan angka pasti karena kebijakan tersebut belum diberlakukan sehingga dampaknya belum terlihat secara konkret.Namun, analisis awal menunjukkan potensi penurunan yang cukup besar, mengingat sebagian besar hotel di Solo mengandalkan kunjungan keluarga pada akhir pekan."Untuk pembatalan pemesanan dari pasar keluarga, sejauh ini belum ada laporan yang masuk. Saat ini kami tengah menyiapkan langkah antisipasi agar siap menghadapi kemungkinan perubahan tersebut," pungkasnya.


(prf/ega)