JAKARTA, — Di tengah kepadatan wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara, sebuah bangunan putih bergaya kolonial masih berdiri tegak dan terawat.Gedung yang dibangun sejak 1914 itu adalah Stasiun Tanjung Priok, salah satu simpul transportasi tertua di Jakarta yang hingga kini tetap berfungsi melayani penumpang KRL Commuter Line.Lokasinya berada tepat berseberangan dengan terminal dan tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok.Namun, kemegahan bangunan stasiun kerap tertutupi oleh aktivitas puluhan pedagang kaki lima (PKL) serta angkot konvensional yang kerap mengetem di depannya.Baca juga: Stasiun Cikini Jadi Stasiun KRL Pertama dengan Lift Tangga Lansia dan DisabilitasPara sopir angkot memilih menunggu penumpang di depan stasiun ketimbang masuk ke terminal karena harus bersaing dengan angkutan JakLingko.Akibatnya, lalu lintas di kawasan tersebut sering kali semrawut. Bunyi klakson kendaraan bersahut-sahutan, seolah menjadi teguran agar angkot tidak berhenti terlalu lama dan sembarangan.Meski demikian, di usianya yang telah melampaui satu abad, Stasiun Tanjung Priok tetap eksis dan dibutuhkan masyarakat.Lebih dari sekadar tempat naik-turun kereta, stasiun ini menjadi saksi sejarah bagaimana Batavia—kini Jakarta—tumbuh sebagai gerbang perdagangan dunia melalui jalur laut dan rel.Sebelum gedung stasiun berdiri, pelintasan kereta api sudah lebih dulu dibangun di wilayah Tanjung Priok. Jalur ini merupakan jalur kereta api kedua yang dibangun pada masa Hindia Belanda setelah jalur Semarang–Tanggung.Pembangunan rel tersebut berjalan beriringan dengan pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok.“Di Batavia pada masa berikutnya setidaknya di 1885 dibangun pada saat dibukanya Pelabuhan Tanjung Priok, jadi Pelabuhan Tanjung Priok dibangun 1883, diresmikan 1885 sekaligus dibangun rel kereta Tanjung Priok,” ucap Sejarawan Asep Kambali saat diwawancarai Kompas.com, Jumat .Baca juga: Sisi Gelap Stasiun Tanjung Priok, Cagar Budaya yang Sempat Jadi Tempat ProstitusiKedekatannya dengan pelabuhan menjadikan jalur kereta api Tanjung Priok sangat vital dan disebut sebagai nadi perekonomian. Pada masa itu, roda ekonomi Batavia sangat bergantung pada aktivitas pelabuhan.Sebelum Tanjung Priok berkembang, Pelabuhan Sunda Kelapa lebih dulu menjadi pusat perdagangan dunia sejak abad ke-12. Pedagang dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, Timur Tengah, hingga Nusantara bertemu dan bertransaksi di kawasan tersebut.Namun, seiring modernisasi dan pendangkalan akibat endapan lumpur, Sunda Kelapa tak lagi mampu menampung kapal-kapal besar. Kondisi inilah yang mendorong pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok, yang kemudian berkembang menjadi tulang punggung perekonomian hingga saat ini./ SHINTA DWI AYU Bangunan utama Stasiun Tanjung Priok di Jakarta Utara. Jumat, .
(prf/ega)
Lebih dari Sekadar Stasiun, Tanjung Priok Menyimpan Jejak Sejarah Perdagangan Batavia
2026-01-12 07:02:45
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:25
| 2026-01-12 07:22
| 2026-01-12 06:32
| 2026-01-12 06:16
| 2026-01-12 05:38










































