Paradoks Ekonomi 2026: Stabilitas ala Purbaya dan Kegelisahan Rumah Tangga

2026-01-12 13:47:09
Paradoks Ekonomi 2026: Stabilitas ala Purbaya dan Kegelisahan Rumah Tangga
MENJELANG 2026, ekonomi Indonesia kerap digambarkan dengan satu kata kunci: stabil. Pasar keuangan relatif tenang, sistem perbankan likuid, dan risiko krisis tampak jauh dari permukaan.Dalam berbagai forum kebijakan dan diskusi pasar, stabilitas ini dipresentasikan sebagai bukti bahwa fondasi ekonomi nasional cukup kuat menghadapi ketidakpastian global.Namun, stabilitas di level makro tidak selalu berbanding lurus dengan rasa aman di tingkat rumah tangga.Di dapur-dapur keluarga, cerita yang terdengar justru berbeda: belanja ditahan, cicilan dihitung ulang, dan keputusan konsumsi besar terus ditunda.Di sinilah paradoks ekonomi 2026 mulai terasa, pasar tampak tenang, sementara rumah tangga justru gelisah.Stabilitas ekonomi hari ini bekerja seperti efek bius. Ia menenangkan, memberi rasa aman, dan meredam kepanikan.Tidak ada gejolak besar, tidak pula krisis terbuka. Namun, seperti bius pada umumnya, ia tidak menyembuhkan akar masalah. Ia hanya menunda rasa sakit.Dalam konteks ini, narasi stabilitas yang selama ini diasosiasikan dengan figur-figur penjaga sistem keuangan, termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai representasi pendekatan menjaga kepercayaan pasar, menunjukkan keberhasilan penting: sistem keuangan tetap kokoh dan volatilitas dapat dikendalikan.Baca juga: Orang Miskin Ditolong atau Didorong?Namun, pertanyaan kuncinya adalah sejauh mana stabilitas tersebut benar-benar mengalir ke kehidupan sehari-hari rumah tangga.Laporan CORE Economic Outlook 2026 menggambarkan kondisi ini secara jujur. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan diperkirakan berada di kisaran 4,9 persen - 5,1 persen.Angka ini menunjukkan ketahanan, tetapi juga menegaskan absennya akselerasi. Ekonomi tidak jatuh, tapi juga tidak cukup kuat untuk melonjak.Masalah utamanya terletak pada mesin pertumbuhan paling penting: konsumsi rumah tangga. Upah riil di sektor-sektor utama penyerap tenaga kerja, manufaktur, perdagangan, dan konstruksi, masih tertekan.Bahkan di beberapa sektor, upah riil mengalami penurunan. Dalam kondisi seperti ini, sulit berharap konsumsi rumah tangga tumbuh agresif.Kelas menengah, yang selama satu dekade terakhir menjadi motor konsumsi nasional, kini berada dalam posisi defensif.Indikator konsumsi non-esensial seperti properti, otomotif, dan transportasi masih menunjukkan pelemahan.


(prf/ega)