Penyebab “Hobbit” Flores Punah: Kekeringan, Gunung Api, dan Persaingan Manusia Modern

2026-01-13 06:10:32
Penyebab “Hobbit” Flores Punah: Kekeringan, Gunung Api, dan Persaingan Manusia Modern
- Puluhan ribu tahun lalu, di Pulau Flores, hidup sekelompok manusia mungil yang kini terkenal dengan julukan “hobbit”. Nama ilmiahnya: Homo floresiensis. Tingginya hanya sekitar 1 meter, dengan otak jauh lebih kecil dari manusia modern, tetapi cukup tangguh untuk bertahan di pulau kecil yang penuh tantangan.Kini, sebuah penelitian terbaru mengusulkan skenario baru yang menarik: para hobbit ini mungkin punah karena kombinasi perubahan iklim (kekeringan), bencana alam (letusan gunung api), dan persaingan dengan Homo sapiens yang sedang menyebar di kawasan tersebut.Baca juga: Manusia Modern Tiba di Australia 60.000 Tahun Lalu, Mungkin Juga Kawin Silang dengan “Hobbit”Fosil Homo floresiensis pertama kali ditemukan di Gua Liang Bua, Pulau Flores, dan diumumkan ke dunia pada tahun 2004. Sejak saat itu, para ilmuwan sibuk mencari jawaban atas dua pertanyaan besar: Bagaimana cara hidup hobbit, dan mengapa mereka akhirnya punah?Yang menarik, sampai sekarang fosil hobbit hanya ditemukan di satu lokasi: Gua Liang Bua. Itu membuat para peneliti menduga bahwa spesies ini punya hubungan sangat erat dengan lingkungan lokal Flores dan sangat sensitif terhadap perubahan di pulau tersebut.Baca juga: Mengungkap Misteri “Hobbit”: Mengapa Homo floresiensis Begitu Kecil?Dalam studi yang baru saja dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment pada 8 Desember, para ilmuwan mencoba menjawab pertanyaan kepunahan hobbit dari sudut pandang iklim.Mereka menelusuri perubahan curah hujan di Flores dengan cara yang unik: mempelajari stalagmit di Gua Liang Luar, gua yang lokasinya tidak jauh dari Liang Bua.Stalagmit terbentuk dari air yang menetes di lantai gua dan meninggalkan lapisan kalsium karbonat. Pada saat air berkurang (lebih kering), pertumbuhan stalagmit melambat dan komposisi kimianya berubah: kalsium karbonat berkurang, kandungan magnesium meningkat. Dengan mengukur rasio magnesium terhadap kalsium karbonat, peneliti bisa merekonstruksi kapan curah hujan menurun atau meningkat, dan seberapa besar perubahannya.Hasilnya cukup dramatis:Dengan kata lain, sebelum hobbit menghilang dari catatan fosil sekitar 50.000 tahun lalu, Flores sudah mengalami periode panjang yang jauh lebih kering.Baca juga: Seperti Apa Wajah Manusia Hobbit Asal Flores?Namun, perubahan curah hujan hanyalah satu bagian dari cerita. Tim peneliti juga meneliti sisa-sisa gigi Stegodon, hewan mirip gajah purba yang kini sudah punah, dan merupakan makanan utama hobbit di Flores.Analisis gigi Stegodon menunjukkan populasi hewan itu sudah mulai menurun antara 61.000 hingga 50.000 tahun lalu. Bahkan setelah terjadi letusan gunung api sekitar 50.000 tahun lalu, Stegodon lenyap sama sekali dari Flores.Para peneliti menduga, kekurangan hujan membuat vegetasi berkurang, sungai-sungai mengecil, dan pada akhirnya populasi Stegodon ikut jatuh. Ketika buruan utama berkurang, kehidupan hobbit pun otomatis semakin sulit.Baca juga: Hobbit Manusia Flores Bukan Kerabat Manusia Jawa, Lantas Apa?Tim Riset Hobbit di Liang Bua Kegiatan ekskavasi untuk mengungkap misteri The Hobbit dari Liang Bua, Flores.Seiring berkurangnya hujan, para peneliti menduga Stegodon mungkin bermigrasi menuju daerah pesisir atau wilayah yang masih punya sumber air lebih stabil. Tentu saja, hobbit yang sangat bergantung pada Stegodon untuk makanan kemungkinan besar ikut “mengikuti” mereka.Nick Scroxton, ahli hidrologi dan paleoklimat dari University College Dublin yang menjadi salah satu penulis studi ini, mengatakan bahwa jika aliran sungai berkurang, Stegodon hampir pasti harus mencari sumber air yang lebih konsisten.“Kami menduga jika populasi Stegodon menurun karena aliran sungai berkurang, mereka akan bermigrasi ke sumber air yang lebih stabil. Jadi masuk akal jika para hobbit ikut mengikuti mereka,” ujar Scroxton.


(prf/ega)