– Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) Puan Maharani melakukan kunjungan emosional ke Sekolah Lentera Harapan (SLH) Gunung Moria di Tangerang, Banten, pada Senin . Sekolah tersebut menampung 300 putra-putri dari pedalaman Papua yang “dihijrahkan” untuk mendapatkan pendidikan yang aman dan berkualitas.Meski melibatkan sejumlah anggota DPR, kegiatan itu bukan sekadar agenda formal, melainkan momen untuk mendengar langsung kisah dan harapan generasi muda Papua.Puan mengatakan, dalam semangat gotong royong, prinsip no one gets leave behind atau tidak boleh ada yang ditinggal harus menjadi prioritas.Jika anak-anak di Pulau Jawa atau daerah metropolitan yang mendapatkan pendidikan, kata dia, semua anak di Papua juga berhak mendapat pendidikan. Baca juga: Pemerintah Indonesia Ajak Mahasiswa China Ikut Bangun Kawasan Transmigrasi Papua"Dalam semangat gotong royong maka kesejahteraan hidup adalah hak semua rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote," ujar Puan dalam siaran persnya, Selasa .Puan pun mendukung anak-anak di SLH Gunung Moria, sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP), untuk kembali ke Papua dan membangun kemajuan daerahnya.Dia juga mengapresiasi rencana sekolah tersebut agar anak-anak SLH Gunung Moria memiliki kesukaan belajar seumur hidup atau lifelong learner. Sebab, menurutnya, ilmu pengetahuan harus terus dipelajari bahkan saat sudah lulus dari sekolah."Saya juga senang YPHP memiliki harapan agar anak-anak yang belajar di sekolah ini nantinya akan merasa terpanggil untuk kembali ke Papua dan melaksanakan pelayanan di sana,” ucap Puan.Baca juga: Belajar dari China, Kementrans Nilai Papua Selatan Potensial Menjadi Pusat Layanan KesehatanDengan demikian, lanjut dia, semua masyarakat di Papua dapat menjadi bagian dari kemajuan Indonesia. Dalam kunjungannya, Puan diperlihatkan sejumlah gambar dan foto aktivitas pendidikan di pedalaman Papua yang dilakukan YPHP.Sejumlah anak juga membagikan pengalaman mereka, seperti Yonce, yang ketika bersekolah di Papua harus bangun pukul 03.00 dini hari karena perjalanan menuju sekolah sangat jauh.Tak hanya itu, Yonce harus berjalan kaki tanpa penerangan melewati bukit-bukit, dan jembatan berbahaya untuk bisa bersekolah.“Saya capek dan takut sebenarnya saat itu, karena banyak tanah yang longsor. Saya juga takut jatuh dari jembatan karena jembatan itu sudah rusak dan roboh,” ungkapnya kepada Puan.Baca juga: Freeport Serahkan Gedung Sains-Kemitraan Uncen, Perkuat Riset dan Pembelajaran di Papua
(prf/ega)
Puan Maharani Dukung Anak Papua Pedalaman Pulang Membangun Daerah lewat Pendidikan
2026-01-12 10:05:56
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 10:36
| 2026-01-12 10:00
| 2026-01-12 09:52
| 2026-01-12 08:26
| 2026-01-12 08:07










































