Baterai Baru yang Bisa Membuat Mobil Listrik Lebih Murah dan Aman

2026-01-12 06:34:53
Baterai Baru yang Bisa Membuat Mobil Listrik Lebih Murah dan Aman
- Para ilmuwan kembali membuat gebrakan di dunia teknologi energi. Mereka memperkenalkan baterai natrium-ion (Na-ion) solid-state generasi baru yang diklaim lebih aman, lebih murah, dan berpotensi menggantikan dominasi lithium-ion (Li-ion) pada perangkat elektronik hingga kendaraan listrik (EV). Temuan ini dirilis dalam dua publikasi ilmiah, masing-masing di jurnal Advanced Materials (19 Mei) dan Advanced Functional Materials (15 Agustus).Baterai Li-ion selama ini menjadi tulang punggung ponsel, laptop, dan mobil listrik. Namun teknologi ini menyimpan risiko serius—yang paling terkenal adalah fenomena thermal runaway, yaitu reaksi berantai yang membuat baterai memanas ekstrem akibat korsleting atau kerusakan fisik.Masalahnya diperburuk oleh elektrolit cair organik di dalam baterai Li-ion yang bersifat sangat mudah terbakar. Inilah alasan mengapa insiden baterai terbakar atau meledak kerap terjadi.Sebaliknya, baterai Na-ion menawarkan stabilitas material yang lebih baik dan kecenderungan lebih rendah mengalami thermal runaway. Namun selama ini mereka kalah dari Li-ion dalam hal kepadatan energi dan ketahanan siklus—dua faktor penting untuk teknologi penyimpanan energi skala industri.Baca juga: Terobosan Baterai Mobil Listrik: Isi 12 Menit, Tempuh 800 km!Dalam studi terbaru, para peneliti berhasil mengembangkan material padat berbasis sulfur dan klorin yang berfungsi sebagai elektrolit dengan stabilitas jauh lebih tinggi daripada elektrolit cair.Mereka menyebut baterai prototipe ini mampu mencapai efisiensi Coulombic 99,26% setelah 600 siklus pengisian pada 0,1C—mendekati performa baterai Li-ion komersial yang dikenal memiliki efisiensi di atas 99%.Profesor Yang Zhao dari Western University menjelaskan dalam video YouTube: “Kami mengganti elektrolit cair dalam baterai dengan elektrolit solid-state — ini tidak mudah terbakar.”Untuk memastikan mekanisme baterai bekerja optimal, tim menggunakan fasilitas sinar-X Canadian Light Source, tempat mereka bisa “melihat” jalur pergerakan ion dan struktur kimia material secara detail.Zhao menegaskan: “Peralatan sinar-X ini memungkinkan kami melihat lingkungan kimia lokal, jalur ion, dan struktur ikatan—hal yang tidak bisa dilakukan instrumen laboratorium biasa.”Baca juga: Natrium, Fajar Baru Industri BateraiJika dapat diproduksi massal, baterai Na-ion solid-state sangat menjanjikan untuk:Sodium (natrium) sendiri jauh lebih melimpah dibanding lithium, sehingga rantai pasokan baterai bisa menjadi lebih murah dan ramah lingkungan. Penelitian sebelumnya (2023) juga menunjukkan bahwa baterai Na-ion lebih mudah didaur ulang karena tidak mengandung logam berat berbahaya.Baca juga: Ramah Lingkungan, Baterai Masa Depan Kita Akan Berbahan Dasar KarbonBeberapa produsen besar tidak tinggal diam. CATL, produsen baterai terbesar dunia, mengumumkan bahwa mereka sudah mulai memproduksi massal baterai Na-ion melalui platform baru bernama “Naxtra”. Baterai ini diperkirakan mulai digunakan di mobil sejak 2026.Sedangkan BYD, raksasa otomotif Cina, juga tengah mengembangkan baterai Na-ion untuk penyimpanan energi skala grid.Hal ini menunjukkan tren bahwa industri siap menerima teknologi baru ini—terutama untuk kebutuhan yang menuntut keamanan tinggi namun tidak terlalu membutuhkan kepadatan energi ultra-tinggi seperti pada mobil premium.Meski menjanjikan, tantangan besar masih menanti, seperti bagaimana memproduksi baterai solid-state Na-ion secara massal, menjaga kepadatan energi baterai tetap kompetitif, serta memastikan umur pakai yang panjang.Jika tiga tantangan ini teratasi, para ilmuwan percaya teknologi ini bisa menjadi pilar baru dalam revolusi energi global.Baca juga: Ilmuwan Ciptakan Baterai yang Bertahan 5.700 Tahun


(prf/ega)