Melihat Uniknya Suku Korowai di Wilayah Papua Selatan yang Dijuluki Manusia Pohon (1)

2026-01-12 03:54:44
Melihat Uniknya Suku Korowai di Wilayah Papua Selatan yang Dijuluki Manusia Pohon (1)
JAYAPURA, - Suku Korowai, yang mendiami hutan hujan tropis di Papua Selatan, dikenal dengan cara hidup unik mereka.Wilayah adat suku ini meliputi Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Asmat dan Mappi di Provinsi Papua Selatan.Mereka tinggal di rumah pohon yang dibangun pada ketinggian antara 12 hingga 35 meter dari permukaan tanah.Ini membuat mereka merupakan salah satu kelompok terakhir mengalami kontak berkesinambungan dengan dunia luar.Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa bahasa Korowai termasuk dalam keluarga Awyu-Dumut.Ini mencakup wilayah yang luas antara Sungai Eilanden dan Digul, mengalir ke sisi selatan pegunungan Tengah.Baca juga: Mengenal Suku Korowai, Penghuni Rumah Pohon di Pedalaman Papua"Tanah suku Korowai mencakup ratusan kilometer persegi hutan lebat di dataran rendah, antara 15 dan 50 kilometer dari rangkaian pegunungan Papua, dan sekitar 160 kilometer dari Laut Arafura," ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa .Menurut Suroto, Suku Korowai lebih berorientasi pada lahan.Sungai-sungai yang lebar dan dangkal serta banyaknya tumpukan bebatuan membuat perahu tidak berguna dalam banyak keadaan."Kebanyakan memancing dilakukan dengan menggunakan keranjang terbuka seperti jebakan. Sungai-sungai juga menyediakan berbagai jenis udang, ikan, dan kura-kura," jelasnya.Suku Korowai bergantung pada sumber daya berbasis lahan, terutama sagu, pisang, ubi jalar, tebu dan keladi.Mereka juga mengumpulkan buah-buahan liar dan minyak rempah dari buah pandan merah, kelapa dan buah sukun.Suroto menambahkan bahwa anjing-anjing berperan dalam perburuan babi hutan, kasuari, dan beberapa mamalia berkantung.Baca juga: Mengenal Suku Korowai di Papua: Dijuluki Manusia Pohon, Bangun Rumah di Ketinggian 40-70 M"Burung-burung juga diburu untuk dagingnya, termasuk paruh burung enggang yang digunakan sebagai penutup penis pada acara khusus," sambungnya.Perempuan dan anak-anak mengumpulkan hewan-hewan kecil seperti katak dan serangga, sementara kepiting menjadi makanan tambahan yang lezat.


(prf/ega)