Jateng Rilis 365 Event Wisata Sepanjang 2026, Ini Daftar Agenda Unggulan

2026-01-31 10:43:58
Jateng Rilis 365 Event Wisata Sepanjang 2026, Ini Daftar Agenda Unggulan
SEMARANG, - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadwalkan penyelenggaraan 365 event yang akan digelar sepanjang tahun 2026 di 35 kabupaten/kota.Rangkaian kegiatan tersebut telah masuk dalam Calendar of Event (CoE) Jawa Tengah 2026.Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah, Syurya Deta Syafri, mengatakan ratusan event itu mencakup berbagai sektor kesenian, budaya, hingga pariwisata olahraga.“Event-event tersebut meliputi seni pertunjukan seperti musik, tari, dan teater baik tradisional maupun modern. Kemudian festival, karnaval, tradisi, MICE, hingga sport tourism, dan lainnya,” kata Deta saat dikonfirmasi, Selasa .Baca juga: Warga Luwu Hilang Diduga Diterkam Buaya, Pencarian Terkendala Serangan Hewan BuasIa menyebut, keberagaman agenda tersebut mencerminkan luasnya potensi budaya, kreativitas, dan tradisi masyarakat Jawa Tengah.Menurut Deta, rangkaian event ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah, khususnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.Adapun total 365 event pada 2026 tersebar merata di seluruh wilayah Jawa Tengah, mulai dari seni pertunjukan, festival budaya, karnaval, tradisi lokal, kegiatan MICE, hingga pariwisata olahraga.Sejumlah event unggulan Jawa Tengah 2026 juga berhasil lolos seleksi presentasi dan wawancara Karisma Event Nusantara (KEN) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata RI.Lebih lanjut, dia menambahkan bagi masyarakat atau wisatawan yang ingin memantau informasi lengkap terkait jadwal dan rincian event dapat diakses melalui situs resmi visitjawatengah.jatengprov.go.id serta akun Instagram @visitjawatengah.“Untuk e-book Jawa Tengah Calendar of Event 2026 dapat diunduh secara gratis melalui tautan bit.ly/jateng365,” tuturnya.Sejumlah event unggulan Jawa Tengah 2026 juga lolos seleksi presentasi dan wawancara Karisma Event Nusantara (KEN) yang digelar Kementerian Pariwisata RI. Beberapa di antaranya meliputi:


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-31 10:19