Niatnya Restorasi Alam, Relawan Temukan Ratusan Sepatu Bersejarah Era Kejayaan Inggris

2026-02-02 16:44:50
Niatnya Restorasi Alam, Relawan Temukan Ratusan Sepatu Bersejarah Era Kejayaan Inggris
LONDON, - Ratusan sepatu kulit berpaku khas era Victoria tiba-tiba ditemukan terdampar di Pantai Ogmore By Sea, Vale of Glamorgan, Inggris.Hal tersebut memunculkan misteri tentang asal-usul benda bersejarah tersebut, sebagaimana dilansir BBC, Selasa .Era Victoria berlangsung selama masa pemerintahan Ratu Victoria di Inggris dari 1837 hingga 1901.Baca juga: Tradisi Natal Unik di Berbagai Negara, dari Nenek Sihir Italia hingga Sepatu Jodoh di Republik CekoPada periode ini Inggris mengalami pertumbuhan kekayaan, kekuasaan kekaisaran, dan perubahan sosial serta teknologi yang signifikan.Sepatu-sepatu berwarna hitam itu diperkirakan berasal dari abad ke-19 dan pertama kali ditemukan oleh para relawan yang tengah melakukan bersih-bersih kolam batu dalam kegiatan restorasi lingkungan pesisir.Kolam batu atau rock pool merupakan genangan air laut alami yang terbentuk di area batuan pesisir saat air pasang surut.Emma Lamport dari Beach Academy, sebuah perusahaan sosial yang terlibat dalam kegiatan tersebut, mengatakan bahwa jumlah sepatu yang ditemukan sangat tidak biasa dan jauh dari perkiraan awal mereka.Baca juga: Paus Leo Kunjungi Masjid Biru Turkiye, Tak Pakai Sepatu dan Ditemani Gagak"Pekan ini saja kami menemukan sekitar 200 sepatu di satu area kecil saat melakukan restorasi kolam batu di Pantai Ogmore," ujar Lamport.Dia menjelaskan bahwa proyek restorasi itu telah berjalan sejak September dengan tujuan membersihkan sampah laut yang kerap terjebak di antara batuan, namun tidak pernah membayangkan akan menemukan ratusan sepatu dari era Victoria.Penemuan tersebut kemudian memicu spekulasi di kalangan warga setempat, termasuk dugaan bahwa sepatu-sepatu itu berasal dari bangkai kapal kargo Italia yang dilaporkan karam sekitar 150 tahun lalu di dekat Tusker Rock.Tusker Rock sendiri berada sekitar tiga kilometer di sebelah barat Pantai Ogmore dan hanya terlihat saat air laut surut, sehingga sering dikaitkan dengan sejumlah insiden kapal karam pada masa lalu.Baca juga: Sepatu Buatan Indonesia yang Diekspor ke AS Terpapar Radiasi, Kini DikembalikanLamport mengatakan, salah satu teori menyebutkan kapal Italia itu tenggelam sambil membawa muatan sepatu kulit.Barang-barang tersebut diduga terbawa arus Sungai Ogmore dan terperangkap di bantaran sungai sebelum sesekali terlepas."Beberapa sepatu berada dalam kondisi yang cukup baik dan pada sebagian di antaranya terlihat jelas bahwa itu sepatu pria," kata Lamport, yang juga merupakan warga Ogmore.Dia sempat menduga sebagian sepatu berukuran sangat kecil merupakan milik anak-anak.Baca juga: 5 Alasan Kenapa Orang Amerika Pakai Sepatu di Rumah


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-02-02 15:57