17 November Peringati Hari Pelajar Internasional, Begini Sejarahnya

2026-02-01 19:36:30
17 November Peringati Hari Pelajar Internasional, Begini Sejarahnya
Setiap tanggal 17 November dunia memperingati Hari Pelajar Internasional atau International Students' Day. Hari ini ditujukan untuk merayakan peran dan kontribusi pelajar, serta mengenang momen penting dalam sejarah yang melibatkan para siswa sebagai garda terdepan perubahan.Momen 17 November menyimpan kisah heroik dan tragis yang menjadi pengingat akan pentingnya kebebasan akademik dan hak asasi manusia. Penetapan tanggal ini terkait erat dengan peristiwa yang terjadi di Eropa puluhan tahun silam, yang melibatkan ribuan mahasiswa yang berani menyuarakan kebenaran di tengah tekanan politik.Penetapan tanggal 17 November sebagai Hari Pelajar Internasional bermula dari peristiwa kelam yang terjadi di Cekoslowakia (kini Republik Ceko dan Slovakia) pada tahun 1939. Mengutip dari laman Days of The Year, kala itu negara tersebut berada di bawah pendudukan Nazi Jerman.Pada Oktober 1939, demonstrasi yang masif dan damai pecah di Praha. Demonstrasi ini dipicu oleh para mahasiswa kedokteran yang berani menentang kebijakan pendudukan Nazi dalam sebuah pawai untuk memperingati kemerdekaan Republik Cekoslowakia. Sayangnya, pawai ini berakhir dengan kekerasan oleh pasukan pendudukan Nazi.Dalam insiden 28 Oktober 1939 tersebut, seorang mahasiswa kedokteran bernama Jan Opletal menderita luka tembak yang parah. Jan Opletal pada akhirnya meninggal dunia akibat luka yang dideritanya pada 11 November 1939. Kematiannya memicu gelombang kemarahan yang lebih besar di kalangan mahasiswa dan masyarakat.Ribuan mahasiswa yang berduka kemudian menghadiri prosesi pemakaman Jan Opletal pada 15 November. Prosesi tersebut berubah menjadi demonstrasi anti-Nazi yang berani. Pasukan pendudukan Jerman merespons dengan kejam, memicu tindakan balasan yang tragis pada dua hari setelah prosesi pemakaman.Pada 17 November 1939, pasukan Nazi menyerbu dan menutup semua institusi pendidikan tinggi di Cekoslowakia. Lebih dari 1.200 mahasiswa dan dosen ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi. Sembilan pemimpin mahasiswa dan profesor dieksekusi tanpa pengadilan sebagai hukuman atas demonstrasi tersebut.Tragedi ini menarik perhatian dunia internasional. Pada tahun 1941, di London, Dewan Pelajar Internasional (sebuah badan yang didirikan oleh para pelajar pengungsi) untuk pertama kalinya mengusulkan 17 November sebagai hari yang didedikasikan untuk mengenang para korban tragedi tersebut dan memperjuangkan hak-hak pelajar di seluruh dunia.Kini, Hari Pelajar Internasional dirayakan secara global sebagai simbol perlawanan, semangat akademik, dan persatuan. Tujuan utama peringatan ini adalah untuk mempromosikan akses pendidikan yang setara, mengadvokasi hak-hak pelajar, dan meningkatkan kesadaran akan peran penting mahasiswa dalam pembangunan masyarakat.Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memperingati hari bersejarah ini, antara lain:Sejak penetapannya, Hari Pelajar Internasional telah menjadi pengingat yang kuat bahwa suara para pelajar adalah kekuatan perubahan. Peristiwa 17 November 1939 mengajarkan bahwa pendidikan dan kebebasan berekspresi adalah hak fundamental yang harus terus dipertahankan.Tonton juga video "Pelajar di Lombok Ditemukan Tewas Usai Terseret Air Bah"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-01 19:30