Menyelisik Prosesi Kremasi Hewan di Rainbow Bridge House Memorial

2026-01-11 03:41:53
Menyelisik Prosesi Kremasi Hewan di Rainbow Bridge House Memorial
BOGOR, - Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan hewan, praktik kremasi hewan peliharaan perlahan menjadi pilihan banyak pemilik.Tidak sekadar pelepasan, bagi sebagian orang kremasi menjadi cara memuliakan kepergian sahabat berbulu yang setia menemani kehidupan mereka.Di Rawakalong, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Rainbow Bridge House Memorial menjadi salah satu tempat yang menyediakan layanan tersebut dengan proses yang rapi, transparan, dan sangat personal.Baca juga: Rumah Kremasi Hewan, Tempat Tidur Terakhir Peliharaan KesayanganPendiri sekaligus pengelolanya, Joan Pascaline Majabubun, telah menjalankan layanan ini bertahun-tahun.Dokumentasi RAINBOW BRIDGE MEMORIAL HOUSE Prosesi foto yang dilakukan di area photoboothBerdiri sejak 3 Februari 2021, Rainbow Bridge House Memorial bukan hanya menyediakan jasa kremasi, tetapi juga mengiringi setiap pemilik melewati proses emosional ketika melepas hewan kesayangan mereka.Bagi Joan, transparansi adalah hal yang tidak bisa ditawar. Semua dimulai dari pemilihan layanan.Sebelum proses dimulai, Joan selalu memastikan bahwa pemilik memahami alur layanan yang akan mereka pilih, apakah hewan akan dijemput atau dibawa langsung ke tempat kremasi.Ia kemudian menjelaskan bagaimana alur kremasi berjalan dari tahap pertama sampai akhir.Hal yang kemudian dilakukan adalah penimbangan, proses penimbangan dilakukan untuk menentukan biaya secara presisi tanpa sistem range yang menurut Joan sering merugikan pemilik.Baca juga: Gusur Pejalan Kaki, Tambal Ban Truk Kontainer di Trotoar Cilincing Jadi Penyelamat SopirKarena itu, ia menerapkan sistem per kilogram.“Jadi gua pakai 0-5 kilo. Nah, setelah itu, per kilonya, ada angkanya sendiri. Kalau di gua tuh, Rp 370.000 itu 0-5 kilo. Kalau dia 6 kilo, tambah Rp 25.000. Jadi lu bayar tuh sesuai dengan ukuran," jelas Joan.Setelah penimbangan selesai, tahap berikutnya adalah dokumentasi awal./HAFIZH WAHYU DARMAWAN Oven yang digunakan untuk kremasi di Rainbow Bridge Memorial House Joan mengambil foto hewan untuk data internal dan untuk memastikan bahwa setiap proses dapat dipertanggungjawabkan.“Udah ditimbang, terus kita foto. Nanti fotonya lu bisa minta sama admin," kata dia.Setelah tahap awal selesai, barulah hewan dibawa ke tempat pemandian dan pengeringan sebelum dilakukan kremasi.Tentunya, para hewan tersebut akan terlebih dahulu didoakan dalam prosesinya.Joan memastikan bahwa setiap tahapan dilakukan dengan penuh kehati-hatian, termasuk proses penghancuran abu sebelum dimasukkan ke guci.“Kita foto, selesai kita foto, kita kremasi. Selesai kremasi, masuk guci. Jadi kita halusin, terus kita masukin guci," kata Joan.Baca juga: Puluhan Tukang Tambal Ban Jadi Penyebab Terhambatnya Revitalisasi Trotoar di CilincingTidak semua pemilik memilih untuk membawa pulang abu hewan mereka.Ada juga yang memilih melarungkannya ke laut karena merasa itu lebih pas sebagai bentuk perpisahan.“Setelah masukin guci, terserah nih, mau pulang, atau mau dilarung. Gitu. Guci pun, goa enggak mau terlalu membebanin orang," kata Joan.Untuk pemilik yang ingin menghemat biaya, Joan menyediakan opsi penggunaan guci gabungan.Bagi Joan, momen perpisahan tidak perlu menjadi beban tambahan.“Jadi kalau misalnya, Kak, udah deh, larung aja. Tapi enggak usah pakai guci, biar hemat biaya. Gak apa-apa, goa ada guci gabungan," kata dia.Prosesi larung dilakukan secara berkala dan terjadwal. Selain bentuk penghormatan, larung juga menjadi simbol melepas hewan ke alam.Joan memilih lokasi laut karena menurutnya, air adalah elemen yang memberi rasa lapang bagi pemilik yang ditinggalkan.“Gua kan larung kan setahun 4 kali. Per 3 bulan. November, Februari, Mei, Agustus. Setiap 4 bulan itu, tanggal terakhir," ujarnya.Joan biasanya memilih lokasi yang relatif dekat dengan daratan namun tetap memiliki air yang bersih.Ia ingin memastikan pengalaman pemilik terasa layak dan menenteramkan.“Jadi kita tuh adanya di antara Pulau Bidadari, Onrus, Cipir. Nah, kita ngelarungnya di situ. Kalau buat goa, sebagai pemilik, lega. Karena kan, airnya jernih," ujar dia.Baca juga: Kala Trotoar Cilincing Dijajah Puluhan Tukang Tambal Ban Truk KontainerBaginya, kualitas lingkungan tempat larung sangat penting.Ia tidak ingin abu hewan yang dicintai dibuang sembarangan.“Maksudnya kan, itu kesayangan lo ya? Terus, dia buang di air butek, sedih sekali," kata dia.


(prf/ega)

Berita Lainnya