Di Balik Cerita Jolakotturinn, Si Kucing Raksasa Pemangsa Anak Nakal Saat Natal

2026-01-12 07:22:56
Di Balik Cerita Jolakotturinn, Si Kucing Raksasa Pemangsa Anak Nakal Saat Natal
- Mendirikan pohon Natal dan bertukar kado merupakan tradisi perayaan Natal yang mungkin dilakukan oleh sebagian besar masyarakat dunia.Namun, ada sebuah tradisi Natal di Eropa, lebih tepatnya di Islandia, yang cukup unik dengan latar belakang yang menyeramkan.Tradisi tersebut adalah menaruh pakaian lama di luar rumah. Tradisi ini berkaitan dengan kisah seekor kucing bernama Jolakotturinn. Baca juga: 5 Tradisi Perayaan Natal yang Aneh di DuniaMengutip History Extra, Selasa , Jolakotturinn adalah seekor kucing yang disebut dengan Kucing Natal (Yule Cat).Dalam mitologi Islandia, kucing ini digambarkan sebagai hewan yang sangat besar, mengerikan, dan ganas. Hewan berkaki empat itu suka berkeliaran di pedesaan yang tertutup salju selama musim Natal untuk memangsa manusia.Jolakotturinn pertama kali tercatat pada abad ke-19. Ia disebut sangat terkait dengan lanskap Islandia dan musim dinginnya yang brutal.Dalam mencari mangsa, ia tidak memilih korban secara acak. Justru, ia menargetkan masyarakat Islandia yang belum menerima pakaian baru sebelum Natal tiba.Cara Jolakotturinn mencari mangsa, dan eratnya kaitan sosok kucing ini dengan lanskap dan musim dingin Islandia, dapat ditelusuri kembali pada ketergantungan negara tersebut pada produksi wol.Peternakan domba sangatlah penting bagi ekonomi Islandia. Untuk mempersiapkan wol untuk bulan-bulan musim dingin, kerja keras ekstra sangat dibutuhkan menjelang musim dingin.Para pekerja yang dengan tekun berkontribusi pada tugasnya akan diberi hadiah berupa pakaian hangat yang terbuat dari wol yang baru dikumpulkan. Hadiah itu sangatlah penting, mengingat iklim Islandia yang keras.Sementara itu, pekerja yang mengabaikan tugas atau dianggap malas, berisiko mendapatkan lebih dari sekadar dipandang buruk, tetapi juga tidak akan menerima pakaian baru.Baca juga: Rekomendasi Outfit Natal, Tampil Modis dan EleganMenurut kisah Jolakotturinn, siapapun yang tidak mendapatkan pakaian baru pada malam sebelum Natal, mereka akan menjadi korban kucing raksasa yang nakal ini.Siapapun yang tidak mendapatkan pakaian baru itu menyiratkan kurangnya ketekunan seseorang pada musim dingin.Melalui sudut ini, mitos Jolakotturinn memiliki dua tujuan moral. Pertama adalah sebagai pengingat akan pentingnya menjalankan kewajiban.Tujuan moral kedua, kisah kucing raksasa ini merupakan penguatan kebutuhan kolektif masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi musim dingin.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-01-12 08:00