Mengejar Efisiensi di Tengah Tekanan Ekonomi, AI Jadi Tumpuan Industri Finansial

2026-01-12 05:02:48
Mengejar Efisiensi di Tengah Tekanan Ekonomi, AI Jadi Tumpuan Industri Finansial
JAKARTA, – Di tengah tekanan ekonomi global yang menekan margin industri jasa keuangan, lembaga-lembaga keuangan Indonesia berpacu memperkuat daya saing melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan komputasi awan (cloud computing).Namun, tantangan terbesar kini bukan lagi soal kemampuan mencoba teknologi baru, melainkan kemampuan mengeksekusi transformasi digital dalam skala besar yang aman, patuh regulasi, dan berkelanjutan.“Banyak lembaga keuangan sudah mencoba AI dalam bentuk chatbot atau otomasi layanan pelanggan. Tapi mengubah proyek-proyek kecil itu menjadi sistem enterprise yang terintegrasi masih menjadi pekerjaan besar,” ujar Robert Kayatoe, Country Manager Indonesia Nutanix, kepada Kompas.com di Jakarta, beberapa Waktu lalu. Menurut Robert, tren digitalisasi ini tumbuh di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, mulai dari tekanan inflasi, gejolak geopolitik, hingga pengetatan regulasi digital. “Dalam situasi seperti ini, efisiensi dan kecepatan inovasi menjadi kunci,” katanya.Baca juga: AI Jadi Kunci Efisiensi dan Interaksi Pelanggan yang Lebih CerdasDOK. NUTANIX Robert Kayatoe, Country Manager Indonesia Nutanix. Laporan Nutanix Financial Services Enterprise Cloud Index (ECI) terbaru mencatat bahwa 92 persen pemimpin sektor keuangan global menilai infrastruktur digital mereka belum siap mendukung aplikasi cloud-native dan container-based, sebagai dua komponen penting bagi penerapan AI modern.Lebih lanjut, 97 persen responden mengakui sistem keamanan AI mereka masih perlu diperkuat. “Mayoritas lembaga keuangan global belum memiliki fondasi cloud yang cukup tangguh untuk mendukung AI yang andal dan aman,” jelas Robert.Dalam konteks nasional, tantangannya menjadi lebih kompleks. Lembaga jasa keuangan di Indonesia dihadapkan pada dorongan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperkuat tata kelola data dan penggunaan AI secara bertanggung jawab. Kebijakan ini sejalan dengan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020–2045, yang menempatkan AI sebagai pendorong utama produktivitas ekonomi.“Indonesia punya ambisi AI yang besar, tapi industrinya harus memastikan fondasi digitalnya siap dulu. Tanpa itu, teknologi seperti Generative AI atau agentic AI justru bisa menambah beban baru,” ujar Robert.Baca juga: Citi Prediksi AI Dongkrak Laba Perbankan Global 2 Triliun Dollar AS pada 2028Di sektor jasa keuangan, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi kini tidak hanya digunakan untuk meningkatkan kecepatan layanan, tetapi juga untuk memperluas akses keuangan bagi masyarakat yang belum tersentuh layanan bank. Pegadaian menjadi salah satu contoh institusi yang menerapkan langkah ini melalui modernisasi sistem inti dan migrasi ke platform cloud yang lebih terintegrasi.Peralihan sistem inti ke platform berbasis cloud memungkinkan pengembangan layanan digital berjalan lebih gesit, sekaligus memastikan layanan tetap dapat diakses 24/7 tanpa hambatan teknis dari sistem lama. Di sisi operasional, penerapan teknologi seperti database-as-a-service mempercepat proses provisioning dan pengelolaan data yang sebelumnya memerlukan waktu berhari-hari, kini dapat dilakukan dalam hitungan jam. Baca juga: Laba Pegadaian Naik 27,7 Persen, Didukung Ekosistem Emas dan Transformasi DigitalOtomatisasi ini membantu tim IT fokus pada pengembangan dan pengujian layanan baru yang lebih relevan dengan kebutuhan pengguna.Bagi nasabah, dampaknya terasa dalam bentuk akses layanan yang lebih cepat dan mudah, terutama untuk produk-produk seperti gadai emas, pembiayaan mikro, hingga layanan pembayaran digital.Adapun bagi perusahaan, efisiensi operasional yang meningkat turut menekan biaya dan mendukung keberlanjutan sistem. Transformasi ini menunjukkan bahwa penerapan AI dan digitalisasi di Pegadaian bukan semata modernisasi teknologi, namun strategi untuk memperluas inklusi keuangan dan memperkuat daya saing di tengah perubahan perilaku masyarakat digital.Langkah ini sejalan dengan misi nasional untuk meningkatkan inklusi finansial, terutama bagi 97,7 juta penduduk Indonesia yang belum memiliki rekening bank.Baca juga: Standard Chartered Gandeng Fintech Percepat Transformasi Digital Bisnis Treasury dan Korporasi


(prf/ega)