Tragedi Wang Fuk Court Hong Kong dan Jerat Hunian Vertikal Asia

2026-01-12 12:21:44
Tragedi Wang Fuk Court Hong Kong dan Jerat Hunian Vertikal Asia
HONG KONG, - Tragedi kebakaran hebat yang melanda kompleks perumahan publik Wang Fuk Court di distrik Tai Po, Hong Kong, pada Rabu bukan hanya bencana lokal, tetapi juga peringatan global mengenai kerentanan keselamatan pada bangunan bertingkat tinggi yang padat populasi.Kebakaran yang menewaskan sedikitnya 55 orang ini segera menarik perhatian dunia, termasuk pesan belasungkawa dan dukungan dari penyintas kebakaran Grenfell Tower di London, sebuah tragedi modern yang memiliki kemiripan menyakitkan.Wang Fuk Court adalah kompleks perumahan publik yang dibangun pada tahun 1983. Terdiri dari delapan tower, masing-masing setinggi 31 lantai, kompleks ini menampung 1.984 apartemen dan merupakan rumah bagi sekitar 4.600 penduduk.Baca juga: 5 Tahun Nihil Penjualan, Apartemen Milik BUMN Karya Ini Terserap 75 PersenTujuh dari delapan blok tower terimbas hebat oleh api yang diklasifikasikan sebagai bencana level lima, tingkat paling serius di Hong Kong.Penyebab penyebaran api yang cepat ini menjadi sorotan utama. Otoritas Hong Kong menduga bahwa jaring (mesh) dan lembaran plastik yang ditemukan pada jendela-jendela bangunan akibat proses renovasi yang sedang berlangsung mungkin telah memfasilitasi penyebaran api.Kecurigaan ini secara refleks membawa ingatan pada tragedi Grenfell Tower di London, di mana investigasi menemukan bahwa cladding (pelapis) bangunan yang sangat mudah terbakar adalah alasan utama api menyebar begitu cepat hingga menewaskan 72 orang.Baca juga: 5 Pilihan Apartemen Terjangkau Dekat Stasiun Tanah AbangKesamaan bahaya dari material tambahan pada fasad gedung, baik itu cladding maupun mesh renovasi, menggarisbawahi kegagalan struktural dalam regulasi material bangunan di high-rise apartment yang padat.Tragedi ini juga secara brutal mengungkap kerentanan sosial di Hong Kong. Kementerian Luar Negeri Indonesia telah mengonfirmasi kematian dua Pekerja Migran Indonesia (PMI) di sektor domestik, sementara tujuh lainnya dilaporkan hilang.Situasi ini diperparah oleh aturan hukum Hong Kong yang mewajibkan pekerja domestik tinggal bersama majikan (live-in).Baca juga: Ara Ajak Pramono Bahas Apartemen Subsidi di JakartaIni menempatkan PMI dan pekerja domestik Filipina (yang menyumbang 97 persen dari total 367.000 pekerja domestik asing, langsung dalam risiko bencana hunian majikan.Selain pekerja migran, kompleks ini juga sangat padat dengan lansia. Menurut sensus 2021, hampir 40 persen dari 4.600 penghuni berusia 65 tahun, menambah kompleksitas dan tantangan dalam upaya evakuasi dan penyelamatan.Menanggapi krisis ini, Chief Executive Hong Kong, John Lee, segera mengumumkan inspeksi yang diatur pada semua kawasan perumahan yang sedang menjalani perbaikan besar.Inspeksi ini akan berfokus pada pemeriksaan keselamatan perancah (scaffolding) dan material bangunan yang digunakan.Baca juga: Aturan Luas Minimal Apartemen 45 Meter Persegi Masih DigodokTiga eksekutif perusahaan konstruksi telah ditahan atas dugaan pembunuhan (manslaughter), menunjukkan adanya penelusuran serius terhadap akuntabilitas korporasi dalam proses renovasi.Pemerintah Hong Kong menyatakan komitmennya untuk menyelamatkan warga yang terjebak dan menyediakan dukungan komprehensif, termasuk akomodasi sementara, bantuan finansial, dan pekerja sosial.Namun, pelajaran pahit dari Wang Fuk Court dan Grenfell adalah sama, di tengah kepadatan urban dan proyek high-rise, inovasi dalam desain dan material harus selalu didampingi oleh regulasi keselamatan yang ketat.Terutama yang menyangkut material pelapis atau penutup temporer yang dapat memfasilitasi penyebaran api secara vertikal.


(prf/ega)