Whoosh Tembus 24 Ribu Penumpang di Libur Natal

2026-02-04 20:16:12
Whoosh Tembus 24 Ribu Penumpang di Libur Natal
JAKARTA, – KCIC mencatat lonjakan penggunaan layanan kereta cepat Whoosh selama periode Angkutan Natal dan Tahun Baru. Hingga Rabu, 24/12/2025, jumlah penumpang Whoosh mencapai 24.439 orang.General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa menyebut angka tersebut mencerminkan meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang libur Natal."Sebelumnya tren peningkatan volume penumpang Whoosh dengan rata-rata diatas 21 ribu perhari sudah terlihat sejak akhir pekan lalu," kata Eva dalam keterangan resmi, Kamis .Baca juga: Beban BUMN Bengkak, Pemerintah Didorong Ambil Alih Kereta Cepat WhooshEva memperkirakan jumlah penumpang masih berpotensi bertambah. Banyak penumpang memilih berangkat pada hari ini untuk memanfaatkan momen libur Natal dan Tahun Baru.Tiket Whoosh yang terjual hingga Kamis, 25/12/2025, mencapai sekitar 16.000 tiket. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah hingga keberangkatan terakhir pukul 21.25 WIB.Okupansi Whoosh hari ini juga tercatat tinggi. Penjualan tiket keberangkatan dari Stasiun Halim pada pagi hingga siang hari sudah melampaui 90 persen. Jadwal keberangkatan lainnya berada di kisaran 70 persen.Rute favorit penumpang selama periode Nataru masih didominasi lintas Halim–Padalarang dan Halim–Tegalluar.Penumpang yang turun di Stasiun Padalarang umumnya melanjutkan perjalanan menuju Bandung menggunakan layanan Kereta Api Feeder. Layanan ini tersedia secara gratis dan mendukung perjalanan lanjutan yang lebih terintegrasi.“Di tengah tingginya volume penumpang, kami mengimbau masyarakat untuk selalu memperhatikan dan menjaga barang bawaan pribadi, baik di area stasiun maupun selama berada di dalam kereta, agar perjalanan tetap aman dan nyaman,” ujar Eva.Baca juga: Purbaya Bertemu Rosan, Bahas Penataan Ulang Proyek Kereta Cepat WhooshKCIC juga mengingatkan calon penumpang untuk segera membeli tiket secara daring agar memperoleh jadwal keberangkatan sesuai kebutuhan, terutama selama periode libur Natal dan Tahun Baru.Tiket Whoosh tersedia melalui Aplikasi Whoosh, laman ticket.kcic.co.id, serta aplikasi mitra seperti Access by KAI, Livin’ by Mandiri, BRImo, Wondr by BNI, Tiket.com, dan Traveloka.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-04 19:29