Review Avatar: Fire and Ash, Spektakel yang Lebih Muram dan Personal

2026-01-12 05:30:49
Review Avatar: Fire and Ash, Spektakel yang Lebih Muram dan Personal
JAKARTA, - Avatar: Fire and Ash membawa penonton kembali ke Pandora, tetapi kali ini dengan nada yang jauh lebih muram dan personal.James Cameron bukan lagi sekadar memamerkan kemegahan visual, melainkan mengajak penonton menyelami luka, amarah, dan konsekuensi dari konflik yang terus membara di dunia yang perlahan kehilangan kedamaiannya.Berbagai konflik berlapis yang dimasukkan terasa relevan dengan kondisi sosial dunia saat ini.Baca juga: Teknologi 3D Avatar: Fire and Ash Dikritik, James Cameron: Saya Suka, Ini Film SayaDengan total durasi 3 jam 15 menit, penonton diajak menjelajahi sisi lain dari Pandora yang belum tersentuh.Durasi film yang panjang membuat Avatar: Fire and Ash harus pintar-pintar memainkan konflik di dalamnya.Konflik berlapis yang dihadirkan berhasil menjaga cerita dari kebosanan dengan durasi film yang panjang.Fokus utama pada Avatar: Fire and Ash adalah kemunculan klan baru bernama Mangkwan yang memiliki sifat jauh berbeda dari Omatikaya (Na'vi hutan) dan Metkayina (Na'vi air).Mangkwan yang dipimpin oleh Varang memiliki sifat yang lebih brutal.Baca juga: Jelang Rilis Avatar: Fire And Ash, James Cameron Resmi Jadi Miliarder Akan tetapi, James Cameron menggunakan Mangkwan dengan cara yang lebih menarik.Permasalahan dalam film ketiga ini berpusat pada duka keluarga Jake Sully, yang kehilangan anak mereka di film sebelumnya.Di tengah duka mendalam, Lo'ak yang sudah remaja mulai mencari jati diri.Kiri pun masih mencari tahu kekuatan apa yang dimilikinya.Sementara itu, dilema moral dirasakan Jake dan Neytiri karena Spider hidup di dunia mereka.Konflik-konflik menjadi busur panah yang dilepaskan Cameron satu per satu hingga semuanya pecah di dalam satu titik.James Cameron tahu betul bagaimana membawa cerita Avatar: Fire and Ash agar tidak membosankan walau memiliki durasi panjang.


(prf/ega)