Tiket Planetarium Kini Dijual Online dan Offline

2026-02-05 00:39:23
Tiket Planetarium Kini Dijual Online dan Offline
JAKARTA, - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menerapkan sistem penjualan tiket Planetarium Jakarta dilakukan secara online dan offline.Hal tersebut disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi keluhan masyarakat yang kesulitan mendapatkan tiket Planetarium."Jadi untuk hal yang berkaitan dengan Planetarium, kebetulan kemarin dari sana dan memang keluhannya baru dibuka itu sampai dengan tanggal 31 sudah full booked," ungkap Pramono di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (29/12/1/2025).Baca juga: Kelola 40 Kg Sampah Per Hari, Warga Kebon Melati Bangun Sistem Lingkungan Mandiri"Padahal banyak sekali warga yang kemudian ingin menggunakan untuk liburan. Saya sudah memutuskan yang 50 persen itu melalui online, 50 persen secara langsung ticketing di lokasi," sambungnya.Pramono menyampaikan, antusiasme masyarakat terhadap Planetarium Jakarta tidak hanya datang dari warga Ibu Kota, tetapi juga dari daerah penyangga."Karena kasian banyak yang sudah datang dari mana-mana, terutama dari daerah yang mengejutkan, dari Depok, Bekasi, Tangerang. Kemarin banyak sekali yang hadir, mereka minta untuk ticketing-nya tidak semuanya melalui online," jelasnya.Pramono juga menegaskan tidak boleh ada praktik percaloan dalam penjualan tiket planetarium yang kini menjadi salah satu destinasi favorit liburan."Enggak ada calo, Kalau ada calo yang saya minta tanggung jawab dirut Jakpro. Saya sudah pesan wanti-wanti, enggak boleh ada calo," tutur Pramono.Sebelumnya, antrean panjang terlihat di kawasan Planetarium dan Observatorium Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Minggu , pada hari ketiga operasional setelah kembali dibuka untuk umum.Baca juga: Tiba di Monas, Massa Buruh Mulai Gelar Demo Tolak UMP Jakarta Rp 5,7 JutaBerdasarkan pengamatan Kompas.com di lokasi, antrean pengunjung mengular hingga sekitar 70 meter sejak pagi hari.Barisan pengunjung tampak memenuhi area bawah gedung TIM, melewati tiang-tiang beton, dengan pembatas antrean berwarna kuning yang dipasang petugas.Dari pantauan visual di lokasi, sejumlah pengunjung terlihat bertanya kepada satpam dan petugas terkait peluang mendapatkan tiket.Beberapa di antaranya tampak kecewa dan khawatir tidak kebagian tiket setelah mengetahui adanya pembatasan dan waiting list.Meski demikian, sebagian besar pengunjung tetap memilih bertahan dan melanjutkan antrean, berharap masih masuk dalam daftar panggilan.Pengunjung datang dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Sebagian terlihat duduk di lantai atau bersandar di tiang bangunan sambil menunggu giliran. Anak-anak tampak ditemani orang tua, sementara beberapa lainnya bermain kecil di sekitar antrean.Baca juga: Kisah Minah Hidup di Rumah Sepetak dan Gang Gelap JakartaDi area dalam gedung, antrean kembali memadat di depan Pusat Informasi Planetarium dan Observatorium Jakarta. Lorong tampak dipenuhi pengunjung yang berdiri rapat, dengan petugas yang berjaga mengatur arus masuk.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

“Fitur ini dapat memberi kendali kepada pengguna untuk menetapkan batas waktu menonton Shorts. Intervensi kecil seperti ini penting untuk membantu anak dan remaja belajar mengatur diri, jelas Graham.Pantauan KompasTekno, area Mental Health Shelf dan fitur pembatasan Shorts memang sudah bisa dijajal di Indonesia.Seperti disebutkan di atas, rak Mental Health Shelf yang dilabeli From health sources akan muncul ketika pengguna memasukkan kata kunci yang berkaitan dengan penyakit mental.Baca juga: MTV Tutup Lima Channel Musik Akhir 2025, Tergeser YouTube dan Medsos?Sementara fitur pembatasan YouTube Shorts bisa diakses melalui menu pengaturan, tepatnya Settings > Time management > dan Shorts feed limit./Bill Clinten Fitur pembatasan waktu menonton Shorts yang baru dirilis YouTube di Indonesia.Country Head YouTube Indonesia, Suwandi Widjaja mengatakan kedua fitur ini merupakan komitmen YouTube untuk membantu remaja Indonesia membangun kebiasaan digital yang lebih sehat serta mengakses informasi yang lebih bertanggung jawab.Di Indonesia, Suwandi menyebut kesehatan mental remaja akan menjadi salah satu fokus dan perhatian YouTube di Indonesia.“Kami sangat serius dengan komitmen kami soal kesehatan mental, dan ini akan menjadi topik yang akan terus menjadi fokus YouTube ke depannya,” kata Suwandi./Bill Clinten Country Head YouTube Indonesia, Suwandi Widjaja dalam acara Beranda Jiwa di kantor Google Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis .Meski jadi fokus YouTube di masa depan, Suwandi menambahkan bahwa dukungan kreator dan pakar menjadi elemen penting agar komitmen ini juga bisa dijalankan dengan baik.Baca juga: YouTube Sulap Video Burik Lawas Jadi Bening dengan AI“Kami membutuhkan bantuan dan kerja sama untuk melanjutkan komitmen kami dan program terkait kesehatan mental di masa depan, sekaligus memperluas jangkauannya,” pungkas Suwandi.

| 2026-02-04 22:50