Geger MBG Berulat di MTsN 1 Palangka Raya, Kepala Sekolah Beri Penjelasan

2026-02-02 01:35:47
Geger MBG Berulat di MTsN 1 Palangka Raya, Kepala Sekolah Beri Penjelasan
PALANGKA RAYA, — Program makan bergizi gratis (MBG) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kembali menuai sorotan setelah ditemukan makanan berulat yang dibagikan kepada siswa MTsN 1 Palangka Raya, Rabu .Kepala MTsN 1 Palangka Raya, Rita Sukaesih, membenarkan peristiwa tersebut.Ia mengatakan, temuan itu diketahui setelah salah satu siswa melihat adanya ulat di dalam menu MBG yang telah disajikan.“Kasus itu terjadi saat konsumsi MBG dibagikan kepada siswa. Kami melihat hanya satu siswa yang melapor, tapi kalaupun lebih dari satu, kami harap pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih hati-hati,” ujar Rita, Kamis .Baca juga: Enam Dapur MBG di Pandeglang Berhenti Operasi karena Anggaran Belum TurunRita menjelaskan, menu MBG pada hari itu adalah osengan ikan teri dan kacang. Dalam hidangan itulah ulat ditemukan.“Kan ada campuran ikan teri dan kacang utuh, di situ ada ulat, semacam sambal goreng teri kacang,” katanya.Siswa yang menemukan ulat tersebut segera berhenti makan dan melapor ke guru.Guru kemudian mengimbau siswa lain agar tidak melanjutkan konsumsi makanan tersebut.“Mereka makan pada siang hari, setelah itu baru ada anak yang melapor. Mungkin ada juga anak lain yang mengalami hal serupa tapi tidak melapor,” tutur Rita.Rita menyampaikan, pihak sekolah selalu berusaha memastikan makanan MBG yang datang tidak dalam kondisi rusak atau basi.Dalam perjanjian dengan SPPG, makanan harus tiba di sekolah sebelum pukul 11.00 waktu setempat.“Kenapa saya ambil jam segitu, supaya makanan diantar, anak-anak salat zuhur, lalu istirahat dan langsung makan. Jadi tidak mengganggu pembelajaran,” jelasnya.Baca juga: Survei Ungkap Alasan Siswa Tak Habiskan MBG, Apa Saja?Ia menegaskan, sejauh ini tidak ada siswa yang sakit setelah mengonsumsi makanan MBG tersebut.Bila ada yang demam, menurutnya hal itu kemungkinan besar karena faktor cuaca yang berubah-ubah.“Saya berharap sekali kepada pihak SPPG agar dalam memasak sampai menyajikan MBG ini betul-betul teliti. Dari mencuci sayuran, memastikan tidak ada ulat, hingga proses memasak dan penyajian harus benar-benar diperhatikan,” tegasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 01:26