JAKARTA, - Lebih dari sepekan pascabanjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, fase tanggap darurat masih menyisakan pekerjaan besar.Di tengah upaya pemulihan infrastruktur, ribuan warga terdampak masih bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar: pangan, air bersih, dan hunian sementara.Banjir yang merendam permukiman dan merusak infrastruktur dasar membuat sebagian wilayah terisolasi. Akses jalan yang terputus memperlambat distribusi bantuan, sementara kondisi pengungsian yang padat meningkatkan risiko masalah kesehatan dan sosial.Ketersediaan pangan dan air bersih menjadi kebutuhan paling mendesak di lokasi terdampak. Air bersih juga menjadi isu krusial, terutama di lokasi pengungsian dengan sarana sanitasi terbatas. Baca juga: Peta Wilayah Terisolasi Usai Banjir Sumatera Menurun, tapi Tantangan MenantiPersoalan hunian sementara belum sepenuhnya teratasi. Banyak warga masih mengungsi karena rumah mereka rusak berat atau masih tergenang air. Namun selain itu, ada kebutuhan psikososial yang juga tak kalah penting untuk dipenuhi. Menurut Ida, pemenuhan kebutuhan dasar, mulai dari pangan, hunian sementara, hingga pakaian layak, harus menjadi prioritas utama. Khususnya bagi kelompok rentan seperti perempuan, lanjut usia, anak-anak, dan balita.“Dalam situasi darurat, mekanisme penyaluran bantuan harus berbasis pada skala prioritas agar kelompok paling terdampak dapat segera tertangani secara optimal,” ujar Ida kepada Kompas.com, Senin .Dia juga mengingatkan, korban bencana umumnya berada dalam kondisi rentan secara fisik maupun mental. Kehilangan tempat tinggal, anggota keluarga, hingga terputusnya kehidupan komunitas membuat para korban membutuhkan perlindungan dan rasa aman sejak hari-hari awal pascabencana.Baca juga: Mengejar Perusahaan Biang Kerok Banjir Sumatera: Sanksi Ganti Rugi hingga Pidana MenantiPenanganan dengan menggunakan skala prioritas yang tepat, membantu korban mendapatkan rasa aman itu. Prinsip prioritas ini tidak boleh diabaikan meski jumlah warga terdampak sangat besar.Selain kebutuhan fisik, Ida menilai trauma mendalam menjadi dampak paling kuat yang dirasakan korban pascabencana. Trauma tersebut terutama dialami oleh mereka yang kehilangan anggota keluarga, kerabat, maupun lingkungan tempat tinggal.“Pada saat tahap tanggap darurat pasca bencana, maka dampak yang dirasakan lebih bersifat psiko-sosial, utamanya trauma, apalagi kehilangan orang-orang tercinta,” ujar Ida.Ia menambahkan, dalam sejumlah kasus bencana besar, hilangnya sebagian desa atau wilayah permukiman turut menyebabkan runtuhnya komunitas sosial yang telah lama terbentuk.“Pada kasus hilangnya sebagian desa atau wilayah tinggal, maka mereka pun kehilangan sebagian komunitas yang selama ini hidup berdampingan,” ungkap dia.
(prf/ega)
Pascabanjir di Sumatera: Kebutuhan Dasar dan Trauma Korban Jadi Tantangan Baru Negara
2026-01-12 16:17:38
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 15:52
| 2026-01-12 15:48
| 2026-01-12 15:29
| 2026-01-12 15:17










































